Blog yang memuat tentang pendidikan anak usia dini, catatan Hasan Harun, karya fiksi dan non fiksi serta motivasi diri. Selamat membaca. Ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Karya Fiksi (Cerpen). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Fiksi (Cerpen). Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Januari 2016

CERPEN (Pejuang Subuh)



PEJUANG SUBUH
Waktu subuh adalah waktu manusia terlelap. Melepas lelah. Melupakan kewajiban bertemu Tuhan dalam salat subuh berjamaah. Waktu Subuh adalah pembeda antara orang munafik dan beriman. Malaikat pun menjadi saksi saat subuh datang. Saksi bagi manusia-manusia yang mengingat Tuhannya.
***
            Perkenalkan, aku Fahrul. Cerita ini merupakan pengalaman nyata di tahun 2015 ini. Pengalaman yang selalu menyimpan kenangan bagiku. Ya. Kenangan yang  membuat aku bersyukur. Bersyukur atas semua pengalaman berharga selama merantau di Jakarta.
            Ping. Bunyi penanda pesan masuk di sosial mediaku Whatsapp. Aku melihat handphone-ku. Pesan tersebut berisi kegiatan kajian pejuang subuh yang dilaksanakan di Masjid Sunda Kelapa Menteng. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan. Di acara tersebut, ada kegiatan pemutaran film cintasubuh dan kegiatan bakti sosial untuk korban pelanggaran HAM di Myanmar, etnis muslim Rohingya. “Acara ini keren juga. Sepertinya, aku harus ikut,” pikirku. Tapi, ada satu kejanggalan yang aku tidak mengerti, Kejanggalan itu adalah penggunaan istilah “pejuang subuh” di komunitas ini. Mengapa harus ada pejuang subuh, berlebihan saja. Aku menutup pesan tersebut. Aku mengambil spidol dan memberikan tanda X di kalender yang tertempel di dinding kosku. 
***
            Satu minggu lagi, bulan puasa tiba. Aku masih belum menyelesaikan penelitianku. “Sepertinya, aku tidak pulang dulu ke Samarinda”, pikirku. Aku menaiki bus TransJakarta untuk ke lokasi penelitianku di Tanjung Priok. Penuh sesak keadaan di dalamnya. Aku berdesak-desakan dengan penumpang lainnya ketika melangkahkan kaki ke dalam bus. Untungnya, aku mendapatkan tempat duduk di bangku belakang. Bus TransJakarta tetap melaju lancar di jalur bebas hambatan. Kulemparkan pandanganku keluar jendela bus TransJakarta. Pemandangan gedung-gedung yang menjulang langit silih berganti menghiasi pemandangan di luar bus. Samar-samar, pemandangan itu hilang, berganti dengan wajah-wajah orang yang kurindukan, ibu, adik-adikku, dan ayah.
Pikiranku masih melayang jauh, meninggalkan bus yang menyesakkan ini. Meninggalkan sesaat dunia di sekitarku. Pikiran akan keinginan untuk pulang ke Samarinda memenuhi isi kepalaku, tapi langsung berganti dengan bayangan laporan penelitian akhir yang harus kuselesaikan.
Jika aku pulang, aku tidak ada waktu untuk menyelesaikan penelitianku. Aku pasti disibukkan dengan acara ngabuburit bersama teman-temanku. Jika aku tidak pulang, aku pasti merasa sedih karena lebaran tidak di kampung halaman. Pikiranku menjadi liar. Keinginan untuk pulang ke Samarinda atau tetap di Jakarta menyelesaikan tugas akhirku berputar-putar silih berganti memenuhi pikiranku. Aku pejamkan mata sejenak dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku.
            “Pemberhentian berikutnya halte Plumpang Pertamina. Mohon periksa kembali barang dan bawaan Anda. Plumpang Pertamina,” suara petugas bus TransJakarta membuyarkan lamunanku. Aku menuju ke arah pintu keluar, mengantre bersama penumpang yang hendak turun. Aku melanjutkan perjalanan ke tempat penelitian dengan ojek.
 “Bang, antarkan saya ke jalan Alur Laut,”ucapku.
Seperti biasa, jawaban orang-orang Jakarta yang sering aku dengar. “Siap Bang,” jawab si Tukang Ojek. Aku dibonceng oleh tukang ojek. Tiada dialog selama perjalanan. Hiruk pikuk kemacetan membuat aku tidak betah di Jakarta. Ah, sumpek dengan kepadatan kendaraan yang kadang membuatku pusing.
“Bang, ini sudah sampai,” ucap tukang ojek. Aku pun turun. “Makasih, Bang,” balasku.
            Sampai juga akhirnya di tempat penelitianku yang berlokasi di perumahan.Taman Bermain Intan, tempat yang mengijinkan aku melakukan penelitian.
            Assalamualaikum, Bu May, ucapku dengan tersenyum.
            Wa’alaikumsalam, ayo masuk Kak Fahrul. Ini anak-anak sudah siap. Bahan-bahannya sudah siapkah? tanya bu May.
            “Siap, Bu.” Aku mengeluarkan beberapa alat percobaan permainan untuk anak-anak ini. Kegiatan ini aku namakan “Penjelajahan Planet Bumi”. Anak-anak tampak gembira menyambut kedatanganku. “Om Fahrul,” ucap Rasya .
            “Hai Rasya,” balasku dengan melemparkan senyumanku. Tangan Rasya memegang jemariku. Dia genggam erat. Tanganku membalas dengan usapan lembut  di kepalanya. Bercengkrama dengan anak-anak PAUD ini membuatku rindu rumah. Iya benar. Aku rindu bermain dengan anak-anak di sekolahku. Aku merasa menjadi anak-anak lagi ketika bercengkrama dengan mereka.
            Ibu May membantu kegiatan penelitianku. Kami menyiapkan kelas menjadi miniatur penampakan bumi. Hiasan gunung, laut, perkotaan, dan pedesaan yang dirancang sebelumnya telah siap. Kegiatan penelitian dimulai. Wajah anak-anak sangat ekspresif. Tidak ada kesedihan. Tawa keras menggelegar seisi kelas. Aku menyembunyikan rasa rindu kampung halamanku dengan ikut memasuki dunia mereka. Ibu May memimpin permainan. Kamera digital berwarna merah andalanku siap merekam tingkah laku anak-anak.
            “Ayo, kita jelajahi bumi sekarang!” ucap Bu May penuh semangat. “Yeeee. Asik, jalan-jalan,” teriak Kinan. Tidak kalah semangat, Rasya bernyanyi lagu naik-naik ke puncak gunung.
            “Naik-naik ke puncak gunung. Tinggi. Tinggi sekali,” suara merdu Rasya mulai bernyanyi. Tiba-tiba, terdengar suara tangis Renti. “Huuaaaa. Ibuuuuuu!” teriak Renti. Ibu May berhenti. Dengan naluri keibuannya, Ibu May mejajarkan wajahnya dengan Renti.
            “Renti, kenapa menangis?” selidik Ibu May.
            “Rasya pukul aku, Bu. Kaki aku jadi akit,” jelas Renti yang cadel.
            Ibu May memanggil Rasya. “Rasya, apakah benar kamu memukul Renti?” tanya Ibu May dengan lembut.
            “Habis, dia jalannya lambat, Bu. Rasya mau cepat,” jawab Rasya dengan kepolosannya. Ibu May menghela nafas. Beberapa kata dibisikkan kepada Renti. Ibu May juga membisikan beberapa kata kepada Rasya. Ibu May meminta Renti mengucapkan kata tersebut.
Renti berkata dengan lantang, “Rasya, aku gak suka. Sakit aku dipukul”. Ibu May juga meminta Rasya untuk mengucapkan kata yang dibisikkan ke telinganya. “Iya, aku tidak sengaja. Maafkan aku,” balas Rasya. Rasya pun memberikan tangan kanannya kepada Renti. Tanda meminta maaf secara langsung kepada Renti. Renti menyambut dengan hangat. Ibu May tersipu-sipu melihat dua anak kesayangannya.  Aku terkesima dengan cara Ibu May menangani kedua anak ini. Tanpa ikut campur melerai mereka. Ibu May tidak menyalahkan Rasya, juga tidak membela Renti. Ibu May memang guru yang luar biasa.
Penelitian pun selesai. Aku bergegas pulang.
“Ibu May, terima kasih untuk bantuannya selama ini. Karena minggu depan sudah puasa dan penelitiannya sudah selesai, saya tidak ke sini lagi, ucapku.
Ibu May mengangguk. Kedua bola mataku menatap lama suasana kelas ini.  Setiap sudut. Setiap jengkal. Aku merasakan kehilangan tempat nostalgia kampung halamanku. Di tempat penelitian ini, aku merasa berada di rumah. anak-anak PAUD yang menemaniku. Orang tua mereka yang ramah dan bersahabat, guru-guru yang mau membantu selama penelitian, bahkan Pengelola Sekolah yang menganggap aku seperti anaknya sendiri. Beruntung sekali aku melakukan penelitian di tempat ini yang diberikan kemudahan. Aku pun terbawa lamunan.
Tiba-tiba Rasya menubrukku dari depan. “Oom,,,aku mau pangku”, ucap Rasya. Ibu May tidak menegur Rasya. Dia mengabaikan tingkah Rasya. Aku hanya membelai rambut Rasya sambil merekam suasana kelas yang mau bubar.
***
            Aku melanjutkan perjalanan ke kosan. Seperti biasa, aku mengantre bus TransJakarta. Aku melihat tanggal di handphone-ku. Pikiranku mulai berkeliaran ke dimensi lain. Keputusan untuk pulang atau tidak ke Samarinda belum aku tetapkan. Di dalam bus TransJakarta, aku bermain handphone. Bukannya memutuskan untuk pulang atau tidak ke Samarinda, aku malah berpikir tentang broadcast info pejuang subuh. Kenapa juga ada komunitas seperti itu? Apakah mereka tidak ria? Membanggakan ibadah mereka. Aaahh! Sudahlah!.
            Akhirnya, aku sampai juga di kos tercinta. Rumah kedua bagiku. Aku segera menutup kamar. Mengunci rapat-rapat. Laptop kembali aku nyalakan. Sedikit demi sedikit aku melaporkan hasil penelitian. Tidak terasa malam hampir tiba. Aku lupa shalat Zuhur dan Ashar. Azan magrib pun tidak terdengar di telingaku karena hasrat ingin menyelesaikan laporan penelitianku. Aku berkutat di depan laptop hingga pukul 22:00. Hatiku merasa janggal. Biasanya, di Samarinda, aku diingatkan oleh Ibu dan Ayah untuk salat. Di Jakarta ini, aku bebas. Tidak ada siapapun yang melarangku. Aku bebas melakukan apa saja yang aku mau. Untuk bercakap-cakap dengan anak-anak kosanku saja, hanya sesekali aku lakukan. Tidak penting bagiku. Karena saat ini, aku sedang berjuang lulus kuliah tahun ini. Tapi, hatiku tetap merasa tidak nyaman. Aku merasa ada yang kurang.
            Kedua mataku melihat jadwal yang aku beri tanda X. Tanggal 13-14 Juni 2015 ke Masjid Sunda Kelapa. Hari ini. Rasa penasaran masih menggelayutiku. Naluri keingintahuanku menuntun aku untuk memutuskan pergi ke acara pejuang subuh itu. Akhirnya malam ini, aku memutuskan untuk pergi ke acara tersebut. Iya. Malam pencarian informasi tentang komunitas pejuang subuh.
***
            Tiba saatnya, aku mengikuti kegiatan pejuang subuh. Rasa penasaranku akan terpecahkan. Aku duduk di atas kursi bus TransJakarta, menggerakan jemariku di atas layar handphone untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penjuang subuh. Tapi nihil. Tak banyak informasi yang aku dapat dari penyelusuran di internet. Hanya seputar iklan kegiatan kajian pejuang subuh yang dilaksanakan di Masjid Sunda Kelapa Menteng. Jadi, aku mau tidak mau harus mengikuti kegiatan ini sampai besok. Pilihan bermalam pun aku lakukan. Peralatan mandi saja yang aku bawa. Teman-teman kos tidak ada yang mau diajak. Aku malah ditertawakan. Mereka menertawakan istilah pejuang subuh itu. Biarlah aku ditertawakan kali ini.
            Aku berjalan menuju Masjid Sunda Kelapa. Tampak sekeliling perjalananku rumah-rumah yang berlapis pagar yang tinggi sekali. Bagai musafir yang tidak tahu arah, aku hanya mengikuti orang-orang yang mengenakan baju koko lengkap dengan peci di kepala mereka.
            Banyak sekali orang-orang yang berdatangan. Aku terkejut. Aku segera bergegas karena azan magrib telah berkumandang. Aku menitipkan sepatuku ke petugas masjid, tetapi, petugas tersebut berkata, “Mau bermalam juga? Titip di sana saja,” terangnya. Aku mengangguk.
            Barisan pemuda penyambut tamu tampak masih berdiri di depan meja. Mereka mengenakan pakaian coklat dan peci hitam. Aku diminta mengisi buku tamu. Salat magrib pun dilaksanakan. Allahu Akbar.
            Sesudah salat magrib, pembawa acara berdiri mengumumkan beberapa rangkaian acara. Aku mengeluarkan buku kecil catatanku. Dengan seksama aku mendengarkan setiap perkataan pembawa acara.
            Assalamu’alaikum, selamat datang Bapak dan Ibu semua. Acara hari ini spesial sekali ada pemutaran film cintasubuh2, lelang untuk korban muslim etnis Rohingya, ceramah sejarah islam, dan kuliah subuh menyambut Ramadhan,” ucap pembawa acara. Mari kita saksikan film pendek cintasubuh2. Penonton bertepuk tangan. Para pemuda dan Bapak pun turut hadir. Yang membuatku bingung, kenapa harus dipisah oleh pembatas laki-laki dan perempuan di acara ini. Naluri keingintahuanku semakin bertambah. Tiba-tiba, pemuda berkaca mata yang berbadan gemuk berdiri. Dia memperkenalkan komunitas Pejuang Subuh. Aku jadi semangat. Aku akan menemukan jawaban.
            Pemuda itu berkata, “Kami adalah para aktivis yang memiliki impian ingin meramaikan salat subuh berjamaah seramai salat Jumat di masjid. Kami menamakan komunitas ini, Pejuang Subuh. Bagi adik-adik, Ibu-Ibu, dan Bapak-Bapak yang ingin menjadi anggota komunitas bisa bergabung dengan kami melalui panitia. Kami memiliki motto “Salat subuh seramai salat jumat”. Aku terdiam. Kata-kata pemuda itu seperti menampar aku. Subuh adalah waktu di mana aku paling susah untuk bangun. Aku suka bergadang sampai pagi. Berkutat dengan tugas penelitianku sehingga di saat azan Subuh berkumandang, aku masih bergemul dengan selimutku.
            “Kami memiliki para pejuang subuh yang sudah salat subuh berjamaah selama 40 hari berjamaah berturut-turut di masjid. Semboyan untuk para pejuang ini adalah “istiqomah sampai khusnul khotimah,” ucap pemuda tersebut. Telah berdiri sebanyak sepuluh orang, menyampaikan kesan menjadi anggota Pejuang Subuh. Aku mendengarkan dengan baik. Perasaanku terharu. Aku menjadi sedih. Entahlah. Kenapa aku menjadi seperti ini.
            Waktu Isya tiba. Semua bersiap untuk salat. Kegiatan dihentikan sementara. Allahu Akbar. Suara takbir imam shalat terdengar seantero Masjid Sunda Kelapa. Lantunan bacaannya membuat hatiku bergetar. Tidak terasa air mataku jatuh. Ada semacam perasaan takut dan tenang mendengar bacaan sang imam di hatiku. Tiba-tiba bayangan masa laluku terpancar di hadapanku. Banyak sekali waktu-waktu salat yang aku abaikan. Bayangan wajah kedua orang tuaku juga sepintas hadir di hadapanku. Semakin syahdu salatku.
***
            Pembawa acara kembali berdiri. Dia memutarkan film pendek cintasubuh2. Aku menghapus air mataku. Film pun diputar. Film ini bercerita tentang pemuda yang mengalami patah hati karena kekasihnya memutuskan hubungan asmara mereka karena tidak pernah salat Subuh. Akhirnya, dia memilih benar-benar bertobat. Pemuda itu meminta temannya untuk membangunkan dia. Berat rasanya bangun untuk salat Subuh di awal-awal. Pemuda itu sampai disiram air karena tidak bangun. Dan ada momen saat temannya menggunakan cara yang menyakitkan. Temannya mengambil penjepit baju dan tali rafia. Penjepit baju yang kecil itu dijepitkan di bibirnya hingga akhirnya dia terbangun. “Arrggggggghhh!” teriak pemuda itu. Tertawalah semua penonton menyaksikan adegan tersebut.
            Rasa penasaranku tentang pejuang subuh ini telah terjawab. Aku pun menjadi tertarik untuk bergabung. Rangkaian acara lain tetap aku ikuti dengan baik. Lelang barang pejuang subuh, ceramah, hingga kegiatan malam bimbingan takwa atau dikenal mabit, serta kuliah subuh menyambut Ramadhan. Aku ikuti semua. Niatku sudah mantap. Aku ingin memperbaiki diriku. Aku melangkahkan kakiku ke meja panitia. Aku mendaftar untuk menjadi anggota pejuang subuh.
“Mas, saya juga mau jadi anggota pejuang subuh,” ucapku.
“Iya, silakan tulis nomor handphone yang ada Whatsapp-nya, Mas,” ucap panitia. Aku mengangguk. Aku tulis nomor handphone-ku di secarik kertas yang disodorkan kepadaku. Minggu pagi pun aku lalui dengan rasa kantuk. Semalaman aku tidak tidur. Aku beribadah. Ketenangan hati aku dapatkan. Aku tidak menyesali menghadiri kegiatan ini. Aku menuju kosan.
***
Tiga hari kemudian, HP-ku berbunyi. Ping, tanda pesan masuk. Ternyata ada nomor baru. Kang Oman, salah satu pejuang subuh. Dia memperkenalkan diri. Aku pun membalas. Kami saling tukar informasi. Kang Oman memberikan beberapa peraturan tentang program pejuang subuh dan keberhasilan program tersebut. Kang Oman berkata, “Salat Subuh dan Isya adalah shalat yang terasa berat bagi orang munafik. Insya Allah saya akan membantu Mas Fahrul,” tutupnya.
Aku memutuskan tidak pulang ke Samarinda dan tetap di Jakarta. Hari pertama aku belajar bangun subuh di mulai. Aku bersiap tidur lebih awal. Aku menuruti pesan Kang Oman. Sebelum tidur, ber-wudhu terlebih dahulu. Niatkanlah bangun untuk salat Subuh”. Alarm handphone pun diatur lebih keras. Aku pun tertidur.
Pukul 05:30, aku baru bangun. Laporan panggilan di handphoneku ada sebanyak 6 kali dari Kang Oman. Hari pertama aku gagal. Susah juga aku bangun subuh, ucapku.  
Peraturan yang tertera di dalam grup pejuang subuh, “Bagi anggota yang salat Subuhnya berjamaah di masjid melapor dengan simbol onta. Bagi yang telat datang berjamaah, tetapi masih bisa berjamaah melapor dengan simbol domba. Bagi yang telat salat Subuh atau tidak shalat Subuh, melapor dengan simbol ayam”. Aku pun melapor diri dengan simbol ayam.
Kang Oman berkata, “Mas Fahrul, kenapa kesiangan?, tanyanya.
Nggak tau Kang, Saya mah sudah mengatur alarm kok, jawabku.
“tetap semangat Mas Fahrul”, balas Kang Oman.
Hari demi hari, aku jalani program pejuang subuh ini yang  memang sulit. Aku selalu susah bangun lebih awal. Hingga akhirnya. Di hari ke-7, aku berhasil bangun lebih awal. Itu pun terbangun karena mimpi buruk dikejar-kejar orang gila yang membawa pisau. Keringat dingin bercucuran membasahi dahiku.  Aku pun bergegas menuju musala yang ada di dekat kos. Sarung kotak-kotak berwarna merah-, dan peci putih sudah aku kenakan. Langkah kakiku mantap menuju musala. Salat sunnah sebelum salat Subuh aku laksanakan.
Satu per satu orang mulai berdatangan. Kebanyakan para orang tua renta. Tidak ada anak muda atau remaja. Aku terkejut. Aku membayangkan negeri Turki yang setiap hari ramai salat Subuh seperti salat Jumat. Pantas saja Turki lebih maju dari negeri ini. Bahkan lebih makmur penduduknya. Azan Subuh pun berkumandang.
As’shalatuukho’irumminannaum…….
As’shalatuukho’irumminannaum……..
“Akhirnya, aku berhasil salat Subuh berjamaah, ucapku lirih. Subhanallah-, Jadi ini nikmat berjama’ah salat Subuh. Udara subuh memang sangat segar. Pikiranku juga terasa lapang. Aku pun bergerak merasa tidak ada beban. Aku merasa bahagia. Kebahagiaan kecil yang menyentuh hatiku.
 Aku pun melapor di grup pejuang subuh. Simbol yang selalu ayam, kini berubah menjadi onta.
Kang Oman membalas dengan pesan singkat, “Alhamdulilah mas Fahrul. Pertahankan. Niatkan karena Allah ya mas. Insya Allah bisa 40 hari berturut-turut berjama’ah salat Subuhnya”,tulisnya.
Aku membalas dengan singkat, “-Insya Allah Kang.










Share:

Cerpen ( Kertas Mimpi )




            KERTAS MIMPI

Kertas mimpi berpelukan dengan malapetaka. Malapetaka yang belum terhapus zaman. Cinta sejati nan tulus pun kalah. Malapetaka terus menggetanyangiku. Kecuali mimpiku. Mimpi untuk mengubah dunia beserta isinya. Itulah kertas mimpi.

07 Juni 2012­ -

Kutorehkan impian-impianku. Impian yang tak terhitung jumlahnya. Rintik-rintik hujan yang membasahi genting rumahku terdengar seperti alunan melodi ringan di telingaku, alunan yang mengiringiku mencatat impian-impian penting dalam hidupku. Gores demi gores tinta penaku menghiasi kertas putih buku harianku. Impian-impian tersebut tertata rapi bagaikan buku-buku di atas rak. Indah. Aku percaya suatu hari impian-impian ini akan terwujud.
Menikahi kekasihku dan melanjutkan studi kuliah di Jakarta adalah satu di antara impian yang ingin segera kuwujudkan menjadi kenyataan. Dalam hati kecilku, aku bergumam, apakah mungkin impian ini tercapai?Aku tidak menghiraukan gundahan hatiku, kutulis saja dalam buku harian ini.
Hari ini adalah hari di mana usiaku bertambah. 21 tahun. Usia yang termasuk muda. Usia di mana aku sudah dewasa dan bebas menentukan jalan hidup sendiri. Tiba-tiba, suara ketokan terdengar dari pintu kamarku. Tok, tok, tok. “Iya masuk,” ucapku. Kriet, bunyi engsel tua terdengar saat seseorang membuka pintu kamarku. Ternyata Ibu. Raut wajahnya tampak sendu. Kenapa, Bu? tanyaku. Ibu pun langsung menangis dan memelukku. Aku bingung, tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa menenangkannya. Iya Bu, kok tiba-tiba nangis? Ada apa? tanyaku. Sambil terbata-bata karena tangisnya, Ibu berkata, ”Ayahmu, Nak. Ayah kamu ternyata selama ini selingkuh dan sudah punya dua anaknya! Bergetar hatiku. Sesak dadaku. Aku kaget sekali mendengar kabar tersebut. Kabar di mana hari ini adalah hari bertambah usiaku. Malah seperti ini. Astagfirulahaldzhim, Ibu yang sabar ya, ucapku. Aku hanya bisa menguatkan Ibu seperti itu. Sebagai anak pertama, aku memang kecewa mendengar kabar tersebut. Ibu masih menangis, tidak terima kenyataan ini. Ayah. Dia belum pulang. Hujan semakin deras diiringi suara petir yang bersahut-sahutan. Perasaanku kacau. Tiada menentu. Tiba-tiba air mata ini mengalir membasahi pipiku.
Aku diam seribu bahasa, hanya menyaksikan Ibuku menangis. Tiba-tiba, adik-adikku datang ke kamarku. Dewi, Yana, dan Dhea duduk di dekat Ibu. “Ibu, cerai aja dengan Ayah. Gak usah lagi sama Ayah”, kata Dewi,nyakiti hati aja”, lanjutnya. Ucapannya penuh emosi. Iya, aku gak suka daripada nanti Ibu dipukul terus oleh Ayah,” ujar Yana tak mau kalah. Sedangkan Dhea hanya menangis tersedu-sedu. Dalam hati, aku bertanya, Ada apa dengan keluargaku ini ya Allah? Apa yang harus aku lakukan?
Suara pintu menjerit kencang. Brak! Ayahku datang dengan wajah menyeramkan seperti setan. Dia mencari Ibu. Nafasnya tidak beraturan. “Ma, kita bicara di dalam kamar sekarang!” bentak Ayah. Tangan Ayah menarik salah satu tangan Ibu dengan kasar. Ibu pun menjadi ketakutan. Dengan spotan, satu tangannya yang lain memelukku erat. “Aku tidak mau, Yah. Jangan paksa aku,” ucap Ibu sambil menangis. Adik-adikku histeris melihat Ayah dan Ibu mulai bertengkar. Dan berusaha sekuat tenaga melindungi Ibu dari tarikan paksa dan amukan Ayah. ”Kalian, tidak usah ikut campur! Ini urusan orang tua,” bentak Ayah.
Aku mematung sejenak, terkejut dengan peristiwa yang terjadi di depan mataku. Tidak terima sikap Ayah, aku berdiri. “Ayah! Tidak usah kasar dengan Ibu. Aku tidak suka!” ucapku. Suasana semakin panas. Ayahku tampak garang. Tidak menghiraukan ucapanku, Ayah membawa Ibu ke dalam kamar mereka dengan paksa. Adik-adikku bergemetaran ketakutan. Air mata mengalir deras membasahi pipi mereka. Aku pun mencoba menenangkan mereka. “Dek, tenanglah. Allah bersama kita,” ucapku dengan lembut. Mereka hanya diam seribu bahasa. Dhea mendekat padaku dan merebahkan kepalanya ke pahaku. “Aku takut, Kak. Aku gak mau Ibu dipukuli Ayah. Ayah jahat dengan kita, Kak,” ucapnya. Aku usap kepala adikku yang bungsu ini untuk menenangkannya. Mereka tertidur pulas dalam hening malam di kamarku. Sajadah berwarna hijau digelarkan di lantai. Takbir aku kumandangkan. Sujud dalam tangisku atas ujian maha dahsyat ini.
“Ceraikan aku, Yah. Aku tidak mau hidup dikhianati. Cinta dan kasih ini tidak bisa dibagi.” Tangis Ibu semakin menjadi. Aku berdiri tegak di depan pintu kamar. Bergegas menuju kamar mereka. “Sudah Ma! Aku tidak mau tahu. Ini warisan malapetaka kita,” ucap ayah. “Malapetaka itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan pernikahan kita, Yah. Besok, kakak-kakak Mama datang,” balas Ibu. Ibu tidak terima diperlakukan seperti ini. Dia yang telah tulus memberikan sepenuh hatinya kepada laki-laki yang kini menjadi suaminya harus membagi cintanya dengan wanita lain. Aku pergi ke dapur sambil menghela nafas. Ditemani buku impianku, aku duduk di atas kursi merah. Aku buka perlahan buku impian yang bersampul coklat. Satu per satu impianku kurangkai kembali. Aku ingin Ayah dan Ibu tidak bercerai, melanjutkan kuliah S2 di Jakarta, menikahi kekasihku, pergi naik haji bersama keluarga, keliling dunia, menjadi penulis buku, tapi kertas mimpi ini masih menyisakan banyak halaman kosong.
Pikiranku kalut. Memikirkan hari esok. Hari yang menggembirakan bagiku berubah menjadi hari yang paling menyedihkan. Khawatir. Wisuda yang aku rindukan berganti menjadi sidang keluarga besar. Sidang yang tak aku harapkan. Buku coklat emas telah tertutup bersama berakhirnya cekcok keluargaku.
Tiba-tiba, suara langkah kaki dihentakkan keras menuju dapur. Sosok berbadan tegap dengan mata berwarna hitam coklat muncul di hadapanku. Ayah. Dia duduk di depanku. “Kenapa kamu belum tidur? Kamu mau ikut campur juga?” katanya dengan nada penuh kesombongan, dia lontarkan kepadaku. Mungkin dia ingin berbincang denganku, tapi aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya. Dia mulai menceritakan sejarah keluarga besar kami.
Kakek-kakekku adalah para tokoh pemuka masyarakat yang disegani. Semua lapisan masyarakat menghormati mereka. Kakekku dari pihak ayah adalah seorang keturunan kerajaan di Jawa yang kabur ke Kalimantan. Dia memiliki keturunan sebanyak 7 anak. Anak ketiga adalah Ayah. Sosro, panggilan kakekku. Dia juga memiliki 3 istri. Sedangkan Ibu memiliki dua orang Ayah. Ayah kandung dan Ayah asuh. Ibuku lahir dari keluarga petani yang miskin. Ayah kandung Ibu adalah seorang petani yang memiliki 9 orang istri. Dia paranormal terkenal di kampungnya. Harun atau di kenal Ki Harun. Kepercayaan mistis warga desa masih sangat tinggi. Ki Harun dikenal memiliki kesaktian tinggi. Dia bisa berpindah ke mana saja dalam hitungan detik dan mengobati orang sakit. Tapi, kemiskinan senantiasa tidak mau melepaskan diri darinya. Ibu terlahir dari istri kedua. Baru tiga hari Ibu menghirup udara di dunia ini, dia diberikan kepada seorang yang bernama Hasan yang bekerja sebagai guru mengaji. Dialah Ayah asuh Ibu. Tapi Ayah asuh ibu pun memiliki 4 orang istri. Itulah malapetaka dari keluarga besar ayah dan ibuku.
“Kamu sebagai anak laki-laki pertama, tidak boleh lembek dan melempem seperti kerupuk. Kamu juga tidak boleh membenci ayah,” ucap ayah. Ayah menutup ceritanya.
***
08 Juni 2012 -
            Wisuda di Universitas Mulawarman yang aku nantikan tidak membuat aku bergairah. Pagi buta menembus kabut embun menuju auditorium. Semangatku menurun. Kedua orang tuaku tidak menghadiri acara wisudaku. Mereka disidang oleh seluruh keluarga besar. Rissa, kekasihku menemaniku. Adik-adikku juga tidak datang. Mereka sekolah. Ingin rasanya aku segera pulang saja. Untuk menjadi saksi sidang keluarga besar. “Aku benci takdir seperti ini,” ucapku kepada Rissa. Aku lampiaskan kekecewaanku atas malapetaka yang terjadi pada keluargaku dengan bercerita kepada Rissa.
            “Sabar Kak. Aku tidak bisa ngomong apa-apa. Aku sedih kakak seperti ini.” Rissa menguatkanku. Aku mengangguk.
            Dalam suasana wisuda, semua orang dihadiri oleh keluarganya. Tapi tidak denganku. Hanya Rissa yang hadir pada momen yang seharusnya menjadi salah satu momen terindah dan bahagia dalam hidupku. Rissa yang setia menungguku duduk di barisan bangku berwarna biru. Dia mengenakan baju kemeja berwarna ungu dan jilbab ungu. Terdengar keras suara pembawa acara memanggil namaku. Aku pun menuju podium. Tali togaku dipindahkan dari kiri menuju ke kanan. Hanya begini saja. Hampa. Tidak lebih artinya bagiku. Tidak ada perasaan sakral atau haru dalam hatiku. Pikiranku melayang ke rumah. Kekhawatiran menghantuiku sepanjang acara wisuda. Apa yang terjadi di sana? Apa Ibu baik-baik saja? Apakah Ibu terus menangis? Bagaimana kalau mereka jadi bercerai? Begitu banyak pertanyaan bergentayangan dalam pikiranku. Acara wisuda berakhir. Aku dan Rissa berfoto bersama bagaikan suami dan istri. Tanganku menggandeng tangan Rissa. Dia tersenyum manis. Bidadariku. Rissa. Dialah bidadari yang ingin aku nikahi.
***
09 Juni 2012 -
            Ayah duduk melamun di ruang tamu. Cukup lama dia melamun. Ibu berada di dekatnya. Minggu adalah hari di mana kami sekeluarga duduk bersama. Sambil menyeruput kopi hitam, ayah membuka pembicaraan. “Aldi, bagaimana hubungan kamu dengan pacar kamu?” tanyanya. Pertanyaan yang membuat aku tersentak. “Maksud ayah gimana? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu. Aldi tidak mengerti,” jawabku.
            Ibu berkata, “Kami tidak jadi bercerai, Al”. Wajah ibu tampak tegar menerima keputusan tersebut. Dia seolah ikhlas menerima yang terjadi saat ini. Apakah ibu memaafkan ayah?” tanyaku. Ayah hanya diam. Ibu mengangguk. Tiba-tiba, Dewi ikut bicara, “Ayah dan Ibu berencana ingin menikahkan kamu, Kak. Ayah sudah berjanji kemarin akan menceraikan istri yang di sana. Ayah ingin kakak segera menikahi Dita daripada pacaran terus”. Mulutku terkunci. Ini seperti mimpi. Aku baru saja menulis impian menikahi Rissa, ternyata sudah ada jalan untuk mewujudkannya. “Bagaimana keputusan kamu?” tanya Ayah dengan lembut. “Aku tidak tahu, Yah. Keluarga Rissa belum tahu hubungan kami. Aku khawatir mereka takut aku seperti Ayah” jawabku. Ayahku mengeluarkan surat pernyataan bahwa dia benar-benar akan menceraikan istri keduanya. Di surat itu tertulis, ia berjanji akan menceraikan istri keduanya dan menyerahkan beberapa hektar tanah untuk kehidupan anak-anaknya di sana. Dia juga berjanji segera menikahkan aku dan membantu aku melanjutkan kuliah S2 ke Jakarta.
            Ibu berdiri di hadapanku. Ia berkata, “Malapetaka kemarin ingin kami hapus. Kami mencintai kalian, anak-anakku. Kalian adalah harta kami paling berharga”. Air mataku mengalir deras mendengar kata-kata tersebut. Ibu tegar bagaikan karang yang setiap hari terkena hantaman ombak. Dia rela memaafkan Ayah demi anak-anaknya. Surga lebih dia pilih. Penderitaan dan kesedihan adalah syarat yang harus dipenuhi Ibu untuk dapat masuk ke surga. “Selamat ya, Nak, kuliah kamu selesai dan status kamu akan berubah. Itulah kado ulang tahun buat kamu di usia 21 tahun”, ucap ibu kepadaku.
            “Kamu segera temui keluarga Rissa di Balikpapan. Om Nanang, Ayah, dan Ibu akan ikut mendampingimu. Setelah kamu menikah, segera kamu menuju Jakarta untuk melanjutkan kuliah S2 kamu,” ucap ayah sambil menyeruput kopi manisnya.
***
17 Agustus 2014
            Minggu pagi menyapaku dengan peringatan kemerdekaan. Aku beserta keluargaku menuju Balikpapan untuk melamar Rissa. Gugup. Perasaanku bercampur aduk. Sepanjang jalan aku hanya diam. Kepingan-kepingan puzzle masalah keluargaku silih berganti memenuhi pikiranku bagai kilasan balik yang diputar berulang-ulang. Satu pertanyaan besarku. Apakah malapetaka ini sudah dihentikan? Khawatir. Lamaran ini ditolak. Terlebih, sejarah kelam keluargaku yang masih menghantuiku. Maukah keluarga Rissa menerima aib keluargaku. Maukah? Tapi mana ada keluarga yang ingin anaknya dimadu. Tidak. Tidak ada. Tapi, bukankah aku juga tidak ada niat untuk memadu Rissa? Tidak. Tidak ada niat dalam hatiku untuk memadunya. Hanya dia bidadari hatiku. Hanya dia. Ya. Aku bukanlah Ayah ataupun kakek. Aku adalah aku. Aku ingin bebas. Aku ingin merdeka. Merdeka dari penjajahan masa lalu kelam keluargaku.
            “Kenapa kamu diam, Al?” tanya Ibu tiba-tiba. Aku tersentak sesaat dengan pertanyaan Ibu yang tiba-tiba.
            “Tidak apa-apa, hanya gugup Bu,” kataku spontan menjawab pertanyaan Ibu. Semua mata tertuju kepadaku yang duduk di kursi belakang. “Tidak usah gugup, kamu, kan, sudah dewasa,” ucap Om Nanang. Aku mengangguk walau masih ada keresahan dalam hatiku. Jalanan tampak lengang. Sepi. Mobil melaju dengan kecepatan 60 km/jam. Samar-samar, aku membayangkan masa depan. Melanjutkan S2 sambil membangun rumah tangga sepertinya tidaklah mudah. Di sisi lain, aku harus bertanggung jawab sebagai seorang suami. Padahal pekerjaan saja aku belum punya.
            Mobil pun berhenti. Ayah mematikan mesin dan berkata, ”Aib keluarga kita, ayah rasa tidak perlu bicarakan di hadapan keluarga Rissa. Cukup dibahas di keluarga kita saja”. “Bujur[1] itu Gus, yang lalu sudah berlalu. Semoga Ozie diterima lamarannya,” balas Om Nanang dengan bijak. Aku melihat Ibu meneteskan air mata. “Kenapa Ibu, kok sedih?” tanyaku. “Ibu hanya terharu, Nak. Ibu bahagia melihat anak Ibu, laki-laki satu-satunya, kini mau melepas bujang. Kamu jangan seperti Ayah ya? Cukup kami saja yang mengalami. Ayah mengambil tisu dan menghapuskan air mata Ibu lalu memegang tangan Ibu. “Makasih sudah memaafkan aku, Ma,” ucap ayah. Kami satu per satu keluar dari mobil. Dan tampak sosok laki-laki kekar berkacamata dengan kumis tebal seperti Pak Raden menyambut kami. Dia Pak Bowo. Ayah Rissa. Calon mertuaku.
            Assalamu’alaikum, mari silahkan masuk,” ucapnya ramah. Ayah membalas salamnya dan bersalaman dengan Pak Bowo. Om Nanang tampak kagum melihat rumah keluarga Dita. Pepohonan berdiri tegak. Pancaran air kolam  ikan mengalir deras. Suara-suara burung bersahut-sahutan. Makanan-makanan juga tertata rapi di atas meja ruang tamu. Kami duduk di atas kursi jati dengan guratan ukiran indah dalam balutan warna coklat. Di depanku ada Kak Tiara, Kakaknya Rissa. Dia berbusana gamis berwarna merah. Dia tersenyum padaku. Pak Bowo membuka pembicaraan.
            “Kami sudah mengetahui niat baik Bapak sekeluarga ke sini,” ucapnya dengan nada serius. “Silakan dinikmati hidangan yang ada. Hanya segini,” lanjut Pak Bowo. Om Nanang sebagai perwakilan keluarga membalas ucapan Pak Bowo. “Iya, seperti yang Bapak sudah ketahui. Kami ke sini berniat menyampaikan maksud menikahkan anak kami dengan anak Bapak. Hubungan mereka sudah cukup lama. Kasian jika ujung-ujungnya tidak jadi menikah,” ucap Om Nanang. Aku hanya diam. Menjadi pendengar yang baik. Rissa tidak terlihat. Mungkin dia di kamar. “Saya minta maaf sebelumnya. Kami sekeluarga sudah mengetahui masalah keluarga sampean[2],” ucap Pak Bowo.  Kaget aku mendengar penyataan barusan. Padahal aku telah mengingatkan Dita untuk tidak bercerita. Air muka Ayah berubah memerah. Ibu hanya diam. Pak Bowo melanjutkan pembicaraanya, “Apakah ke depannya nanti Aldi bisa menjadi suami yang baik bagi anak kami?” pertanyaan itu mengarah kepadaku. Semua orang mengarahkan pandangannya kepadaku. Ayah dan Ibu memandangku lekat-lekat. Kedua bola mata mereka tampak pasrah dengan apapun yang aku ucapkan. Aku masih diam. Hatiku berdebar. Otakku berputar keras memikirkan jawaban apa yang tepat. “Bagaimana, Al?” tanya Ayah padaku.
            Insya Allah, jika Bapak mempercayai saya untuk menjaga dan tidak mengecewakan anak Bapak, saya berjanji tidak akan pernah membuat Rissa kecewa. Saya mencintai Rissa,” ucapku. Pak Bowo mengangguk menanggapi jawabanku. “Tapi, Nak Aldi. Anak kami belum selesai kuliahnya. Kamu juga baru lulus kuliah. Apakah tidak sebaiknya ditunda dulu,” balas Pak Bowo.
Ayah dengan nada diplomasi berkata, “Jika seperti itu, apakah ada jaminan Rissa mau menunggu anak kami, Pak? Kami berencana menyekolahkan kembali Aldi ke Jakarta. Tujuan kami menikahkan Aldi agar ia selama di Jakarta ada yang mengurus dan memperhatikannya”. Pembicaraan semakin serius. Keluarga Rissa memberikan sinyal menolak lamaran ini dengan alasan anaknya masih kuliah. Rissa pun keluar. Dia hanya tertunduk. Tidak berani menatapku.
Sambil menghela nafas, Pak Bowo berkata, “Mohon maaf sepertinya kami tidak bisa memberikan jaminan itu. Masalah perasaan tidak ada yang bisa menentukan. Lamaran ini tidak bisa kami terima,” tutup Pak Bowo. Aku berusaha kuat untuk menyakinkan Pak Bowo. Ayah pun tersenyum. Ibu memegang tanganku, memberi tanda kepadaku untuk menerima keputusan Pak Bowo. Om Nanang pun kembali menyuarakan suara seraknya. Dia berkata, “Baiklah Pak Bowo. Pernikahan yang ideal memang tidak boleh ada unsur paksaan. Kami memahami keputusan Bapak beserta keluarga”. Kedua keluarga yang berbeda budaya dan kota ini saling bersalaman. Tanda kami ingin pulang. Aku pun menghampiri Rissa. “Dek, maafkan kakak jika ada salah. Kakak pamit,” ucapku tersenyum. Rissa menatapku lemah.
***
            Pukul 20:00, kami sampai rumah. Sepanjang jalan tidak ada dialog. Aku langsung menutup kamar. Menenangkan diri. Perasaan malu mencabik hatiku. Aib yang seharusnya tidak diceritakan malah terkuak ke permukaan. Kami sekeluarga sangat malu. Ayah dan Ibu menyusulku ke dalam kamar. Mereka duduk di dekatku. “Kenapa Rissa seperti itu?” tanya Ayah dengan nada kecewa. “Seharusnya, Rissa menutupi aib kita. Selama ini kan, kita mau mengurus dia di Samarinda. Tidak tahu terima kasih,” lanjut Ayah. “Aldi tidak tahu, Yah,” ucapku datar. Ayah berdiri dan keluar dari kamarku, memberi waktu untuk aku menenangkan diri. Hanya Ibu yang masih duduk di dalam kamarku. Dipandanginya aku lekat-lekat. Matanya memancarkan penuh kasih sayang. Naluri keibuannya mungkin berkata bahwa anak laki-lakinya saat ini sedang terluka.
            “Nak, kamu harus bangkit. Lanjutkan kuliah kamu. Ini jalanmu. Lupakan Rissa. Menuntut ilmu butuh pengorbanan. Ikhlaskan yang telah terjadi. Di mana kaki berpijak, di situ langit di junjung tinggi. Tidak usah kamu pikirkan. Orang baik pasti bertemu dengan yang baik,” hibur Ibu. Ibu keluar dari kamarku setelah meletakkan sebuah buku catatan di atas mejaku. “Buatlah kisah dan mimpi yang baru, Nak,” ujarnya sambil tersenyum lalu menghilang dari balik pintu kamarku.
            Aku gelar sajadah hijauku. Takbir aku kumandangkan. Mengadu pada Allah. Betapa bebanku terasa berat. Aku merasa tidak mampu memikulnya. Tetesan airmataku berjatuhan. Suaraku menjadi parau. Sujud panjang penutup salatku. Aku sampaikan semua keluh kesahku kepada-Nya dalam sujudku. Langkahku mantap melanjutkan kuliah ke Jakarta dan melupakan Rissa. Bismillahirrahmanirrahim.
***
Kertas mimpi berpelukan dengan malapetaka. Malapetaka yang belum terhapus zaman. Cinta sejati dan tulus pun kalah. Malapetaka terus menggetanyangiku. Kecuali mimpiku. Mimpi untuk mengubah dunia beserta isinya. Itulah kertas mimpi. Dia menemaniku malam ini. Bernostalgia bersama bayang-bayang masa lalu. Aku ambil mutiara hikmah pelajaran kegelapan. Aku yakin masa cerah sudah menungguku dalam uluran tangan-Nya. Malapetaka pun pasti bisa hancur luluh lantah dalam genggamanku.  Genggamanku bersama lembaran kertas mimpi. Aku katakan pada masa lalu, “Aku telah berhijrah. Selamat datang kertas mimpi yang baru!”.






[1]  Bujur dalam Bahasa Banjar berarti ‘Benar’.
[2] Anda.
Share:

silabus dan rpp matakuliah

KUMPULAN SILABUS DAN RPP MATA KULIAH YANG DIAMPU

KAPITA SELEKTA PAUD ASESMEN AUD PENGEMBANGAN APE MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PAUD KESEHATAN DAN GIZI MODEL PENGEMBANGAN SOSEM AUD TEORI ...

Total Tayangan Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

About

Flag Counter

Blogger templates