- KAPITA SELEKTA PAUD
- ASESMEN AUD
- PENGEMBANGAN APE
- MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PAUD
- KESEHATAN DAN GIZI
- MODEL PENGEMBANGAN SOSEM AUD
- TEORI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
- BERMAIN DAN PERMAINAN
- KAJIAN DAN PENGAMATAN AUD
Minggu, 20 Mei 2018
KUMPULAN SILABUS DAN RPP MATA KULIAH YANG DIAMPU
Jumat, 05 Februari 2016
Tanda Orang Berakal
Orang yang berakal, luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia lebih memilih yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Pandangannya juga luas, ditimbangnya sebelum dikerjakannya. Sebab mengharap keutamaan dengan tidak mempergunakan pemandangan adalah pekerjaan yang sia-sia.
Orang yang berakal selalu menaksir harga dirinya, menaksir harga diri adalah dengan menilik hari-hari yang dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah pula digunakan. Baik atau buruk nilai harga diri, tergantung pada apa yang dperbuat setiap hari di lalui.
Orang berakal selalu berbantahan dengan dirinya. Kalau diri menempuh kejahatan dihukumnya dirinya bahwa yang namanya kejahatan itu berbahaya, merugikan, dan dapat mencelakakan. Apabila diri itu ada yang mengingat yang baik-baik dan buah hasil, dengan mudah diri sendiri akan menunjukkan.
Orang yang berakal selalu mengingat kekurangannya. Bahkan jika perlu dituliskannya di dalam sebuah buku peringatan setiap hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan.
Orang yang berakal dilhatnya kebaikan budi pekerti orang lain. Dipujinya di dalam hati dan ditimbulkannya cita-cita hendak meniru, seraya diangsurnya pula meneladani selangkah demi selangkah. Kalau hendak mencari teman, handai tolan, dan sahabat, orang berakal memilih orang yang mempunyai kelebihan baik dalam perkara agama atau ilmu atau budi kesopanan.
Orang yang berakal tidak berduka cita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha.
Orang yang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula, karena tanpa teman yang berakal, akan lemahlah dia, dan dengan bersama akan dapat dia membandingkan di mana kekurangannya dan di mana kelebihannya.
Orang yang berakal tahu membedakan manusia, sebab itu dia tidak canggung bergaul dengan siapapun. Manusia dibaginya dua. Pertama orang yang awam. Perkataanya di sana dijaganya, tiap-tiap kalimat yang keluar dari mulutnya dibatasi. Kedua ialah orang yang khawas (orang-orang utama). Di sanalah dia merasa lezatnya ilmu. Kepada yang lebih dari dia, dia belajar. Kepada yang sama dengan dia, dia membandingkan dirinya.
Orang berakal memandang segala besar segala kesalahan itu. Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak memandang kecil suatu kesalahan. Karena bila memandang kecil suatu masalah, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar.
Orang yang berakal sadar bahwa di antara akal dan nafsu, atau di antara pikiran dan hawa tidak ada persetujuan. Kehendak nafsu manis di awalnya, dan pahit di ujungnya.
Orang berakal tidaklah berduka hati. Karena kedukaan itu tidak ada artinya.
Orang berakal tidaklah menjawab sebelum ditanya. Tidak pula menjawab pertanyaan lebih dari mesti, supaya jangan dikatakan orang: tidak pandai memegang rahasia. Tidak pula suka menghinakan orang.
Orang yang berakal tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya, karena orang yang lupa memandang aib dirinya sendiri, akan lupalah kepada kebaikan orang lain. Maka lupa akan aib diri itu adalah bencana hidup.
Orang berakal pergi ke medan perang membawa senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi teranglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dan dengan ilmu ditaklukkan dunia.
Orang berakal pandai membandingkan yang belum ada dengan yang telah ada, yang belum didengar dengan yang sudah didengar. Umurnya yang tinggal dibandingkannya dengan yang telah pergi.
Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan untuk dirinya sendiri.
Minggu, 17 Januari 2016
Catatan Hasan Harun (Mengenal Cinta dari Berbagai Konsep)
Mengenal Cinta dari Berbagai Konsep
(Ensiklopedia Cinta)
Detik ini, jutaan referensi dan para
pakar di bidang keilmuan memiliki pengertian sendiri mengenai konsep cinta.
Sebelum meneguk cinta yang dengan segala problematikanya dan mendalam, perlu
memahami apa itu cinta?. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta memiliki
beberapa arti, yaitu suka sekali, sayang benar, kasih sekali,
terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali, berharap sekali,
rindu, dan susah hati (khawatir).
Ada
yang mendefinisikan cinta sebagai perasaan seseorang terhadap lawan
jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki lawan jenisnya
(misalnya sifat, wajah, dan lain-lain)., namun diperlukan pengertian dan saling
memahami untuk dapat melanjutkan hubungan. Haruslah menutupi kekurangan, mau
menerima pasangannya apa adanya tanpa paksaan oleh salah satu pihak, dan
berbagi suka dan kesedihan bersama.
Bahkan,
ada yang mengatakan cinta itu adalah kelembutan. Dia diuji oleh godaan,
dikuatkan oleh kesusahan, yang tidak berubah oleh ketidakhadiran. Namun, dari
itu semua, cinta tidak akan lekang oleh waktu. Cinta adalah pengertian, saling
menguntungkan, berbagi, saling memaafkan, dan kesetiaan melalui waktu yang baik
dan buruk.
Definisi
cinta dari beberapa pakar pun berbeda. Seperti pakar fisika, mendefinisikan cinta
sebagai gaya tarik menarik antara dua manusia berlainan jenis yang besarnya
berbanding lurus dengan intensitas pertemuan, menyebabkan terjadinya gerak
lurus beraturan untuk saling mendekat, sehingga menimbulkan resonansi antara
dua hati. Akhirnya melebur menjadi satu dengan frekuensi gelombang cinta yang
sama.
Sedangkan menurut ahli kimia, cinta
adalah reaksi yang melibatkan beberapa unsur yaitu P (Pandangan), Se
(Senyuman), Li(Lirikan), dan RA (Rayuan) dengan katalisator S (Suka dan Sayang)
sehingga menjadi senyawa C1NT4.
Mari kita menelusuri
konsep cinta dari tokoh islam, Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, salah seorang tokoh
ulama dan juga pakar cinta yang menemukan 60 istilah yang berkaitan dengan
cinta. Dalam tulisan ini, penulis hanya mampu menelaah 4 istilah dari sumber
referensi, yaitu, Al Mahabbah, Al Hawa, Asy Syauqu, dan Al Wahl.
Pertama,
Al mahabbah. Kata ini paling umum
digunakan untuk menggambarkan cinta. Dari satu kata ini, ternyata masih
mengandung banyak makna yang dikaitkan dengan akar katanya. Kata al mahabbah bisa berarti bening, bersih,
tenang, teguh, biji tanaman, usungan bejana, buah hati, dan lain-lain,
bergantung pada konteks kalimatnya. Tetapi, secara umum, al mahabbah dimaknai sebagai kasih sayang.
Kata al mahabbah mencakup beberapa unsur, antara lain:
1. Kecenderungan
secara terus menerus dengan disertai hati yang meluap-luap.
2. Mendahulukan
kepentingan atau keinginan orang yang dicintai dari hal-hal lain.
3. Menuruti
keinginan orang yang dicintai, baik ada dia maupun tidak.
4. Menyatukan
keinginan orang yang mencintai dan dicintai.
5. Hati
orang yang mencintai tak terbendung untuk tidak mengingat orang yang dicintai.
6. Menyerahkan
dan melakukan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintainya
sehingga tidak ada yang tersisa.
7. Menyingkirkan
apa yang ada di dalam hati kecuali orang yang dicintai.
8. Cemburu
terhadap orang yang dicintai apabila kehormatannya berkurang.
9. Menjaga
batas.
10. Tenang
tapi gundah dan gundah tapi tenang.
11. Keteguhan
hati terhadap orang yang dicintai.
Unsur-unsur
di atas, apabila dicampur menjadi satu dalam sebuah bejana hati, lalu dibumbui
dengan ketulusan, dan dibakar dengan api pengharapan, maka akan menghasilkan
seluruh hidangan kasih sayang yang murni. Jika dihidangkan dengan cawan
keimanan akan menghasilkan kenikmatan sempurna bagi jiwa yang membutuhkannya.
Kasih
sayang merupakan tingkatan cinta yang lebih tinggi dan bersifat universal. Ia
berlaku tidak hanya untuk lawan jenis saja, melainkan terhadap orang tua,
saudara, semua orang, dan makhluk lainnya. That’s
very nice. Kasih sayang yang dimiliki kita sebagai manusia merupakan
perwujudan representatif dari sifat Allah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan
Maha Penyayang (Ar-Rahim). Seperti yang Rasullulah sabdakan di HR. Muslim di
bawah ini;
“Allah
menjadikan kasih sayang-Nya terbagi dalam seratus bagian. Dia menahan sembilan
puluh sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari satu
bagian itulah para makhluk saling kasih-mengasihi sehingga seekor induk
binatang mengangkat cakarnya dari anaknya karena takut melukainya”.
Kedua,
Al-Hawa. Al- Hawa berarti
kecenderungan, hasrat, dan nafsu jiwa terhadap orang yang dicintainya. Al- Hawa atau hawa nafsu biasanya
dikonotasikan negatif. Walaupun demikian, ada nafsu yang dirahmati oleh Allah.
Nafsu
merupakan salah satu fitrah dari Allah yang ditanamkan pada manusia. Oleh
karena itu, janganlah berusaha menghilangkan nafsu seperti para rahib dan
pendeta tetapi jangan pula memperturutkan nafsu sekehendak kita saja seperti
binatang atau bahkan lebih rendah dari itu. Seyogyanya nafsu dibingkai dengan
ketakwaan kepada Allah, sehingga penyalurannya sesuai dengan koridor yang telah
ditetapkan dalam agama.
Ketiga,
Asy Syauqu yang berarti rindu atau
pengelanaan hati untuk bersua orang yang dicintai. Kerinduan merupakan bara dan
kobaran api yang bersemayam dalam hati orang yang mencintai yang mendorongya
untuk selalu berdekatan dan berhubungan dengan orang yang dicintai.
Keempat,
Al Wahl yang berarti takut atau
gemetar. Seseorang yang melihat orang yang dicintainya akan berubah rona
wajahnya dan gemetar hatinya karena cinta yang menguasainya.
Demikianlah,
konsep cinta yang ditelusuri oleh penulis dari berbagai rujukan. Di luar sana
banyak definisi tentang cinta. Semua mendefinisikan cinta ini berdasarkan
pengalaman hidup dalam mengenal cinta. Namun, obat yang paling mujarab bagi
cinta adalah menikah. Tulisan berikutnya akan penulis sajikan dalam tema tulisan
berjudul “Mempersiapkan Diri”. Sebuah tulisan yang ditulis yang bertujuan untuk
menjadi “alarm” bagi penulis sendiri. Karena prinsipnya, jodoh adalah rahasia
ilahi. Sebelum menikah, kita tidak akan pernah tahu siapa jodoh kita. Oleh
karena itu, daripada terlalu fokus pada sosok yang dinanti lebih bijak jika
kita fokus pada diri sendiri. Semoga bermanfaat sahabat!
Sumber
Referensi:
Agus, Susanto,
2013. Rational Love (Nikmatnya Cinta Tanpa Galau).Jakarta:PT.Elex
Media Komputindo.
Al Jauziyah,
Ibnul Qayyim, 2004. Taman Orang-Orang
Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Penerjemah: Kathur Suhardi. Jakarta: Darul
Falah.
Al-qur’an Al
Karim, surah Yusuf, ayat 53.
Lubis, Arif
Rahman, 2014. Halaqah Cinta. Jakarta:
PT Agromedia Pustaka.
Jumat, 15 Januari 2016
Evaluasi Pembelajaran PAUD (1)
EVALUASI PEMBELAJARAN PAUD (1)
OLEH: FAHRUL ROZIE
Permasalahan
dalam pembelajaran di dunia pendidikan anak usia dini sering di jumpai guru
tidak mengetahui dengan pasti mengenai penilaian. Kesulitan guru dalam
melakukan penilaian masih sering terjadi.Padahal penilaian di proses
pembelajaran PAUD merupakan deskripsi ketercapaian perkembangan anak. Deskripsi
ini akan memberikan informasi pada orang tua mengenai kesiapan belajar anak
memasuki SD. Guru juga tidak bisa membedakan yang mana assesment dan evaluasi (penilaian). Berangkat dari hal tersebut,
penulis mencoba menuangkan beberapa uraian mengenai evaluasi pembelajaran paud.
Harapan bagi para guru untuk dapat menerapkan penilaian yang tepat sasaran dan
sesuai dengan perkembangan anak usia dini.
A.
Perbedaan
Asesment dan Evaluasi Pembelajaran Anak Usia Dini
Dengan
mengetahui perbedaan asesment dan evaluasi, guru dapat memiliki kemampuan yang
kompeten dalam melakukan proses penilaian. Kedua istilah tersebut berbeda
makna. Berbeda pengertian. Sehingga dengan mempelajari konteks perbedaan
tersebut, guru tidak akan asal-asalan menilai anak di kelas.
Perlu
diketahui, secara umum terdapat tiga istilah yang sering digunakan dalam
evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian (tes, measurement, and assesment). Tes merupakan salah satu cara
untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu
melalui respons terhadap stimulus atau pertanyaan (Eko Putro Widoyoko,2009:2).
Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan karakteristik objek.
Dalam hal ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat, maupun
motivasi.
Pengukuran
(measurement) dapat didefinisikan
sebagai proses penetapan angka terhadap individu atau karakteristiknya
berdasarkan aturan tertentu (Ebel & Frisbie,1986:14). Sehingga esensi pengukuran
adalah penetapan angka tentang karakteristik atau keadaan individu menurut
aturan tertentu. Keadaan tersebut bisa berupa kemampuan kognitif, afektif dan
psikomotor. Berbeda dengan tes. Pengukuran jauh lebih luas. Pengukuran dapat
digunakan tanpa melakukan tes, misalnya dengan pengamatan, skala rating, atau
cara lain untuk memperoleh informasi dalam bentuk kuantitatif.
Asesmen
memiliki makna yang berbeda dengan evaluasi. The Task Group on Assesment and
Testing (TGAT) mendeskripsikan asesmen sebagai semua cara yang digunakan untuk
menilai unjuk kerja individu atau kelompok (Griffin & Nix, 1991:3). Asesmen
dalam konteks pendidikan sebagai usaha formal untuk menentukan status siswa
berkenaan dengan pendidikan (Popham,1995:3). Dengan kata lain, asesmen dapat
diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran berdasarkan
kriteria maupun aturan tertentu.
Mengevaluasi
pendidikan anak berarti, memeriksa pendidikan yang diterima anak itu (McDonald,
B ;1982), dan mengamati, meneliti seberapa besar kesenjangannya (asas
diskrepansi) materi pendidikan yang telah diberikan pada anak didiknya terhadap
tujuan atau taraf kemiripannya (asas kongruensi) dengan gambaran yang telah
ditentukan atau diharapkan sebelumnya akan terwujud menurut pola perkembangan
anak pada tahap usia tertentu.
Adapun
asesmen berkaitan dengan memperhatikan dan mendeskripsikan kemajuan proses
pendidikan anak, yaitu apakah ada bukti kemajuan anak ke arah tujuan program
pendidikan dan bagaimana respon anak didiknya pada metode yang dipergunakan dan
isi pendidikan yang diberikan.
Dengan
demikian, melalui asesmen dan evaluasi para guru terlibat dalam 2 hal, yaitu:
a. Apa
yang disiapkan dan ditawarkan untuk anak didiknya, misalnya: program
pembelajaran kontemporer, life skills,
dan
b. Bagaimana
tawaran itu ditanggapi anak karena setiap anak mempunyai gaya belajar sendiri,
bahkan bisa oto-edukasi.
B. Prosedur Asesmen dan Evaluasi
Prosedur
merupakan langkah - langkah atau tahapan dalam melakukan sesuatu. Berikut akan
diuraikan satu per satu mengenai prosedur yang biasanya digunakan dalam asesmen
dan evaluasi pembelajaran PAUD.
a. Prosedur
Formatif dan Sumatif
Terdapat
dua prosedur pelaksanaan dalam evaluasi, yaitu: prosedur formatif yang
menekankan pada proses dan prosedur sumatif yang berorientasi pada hasil.
Prosedur
formatif merupakan suatu langkah dalam asesmen dan evaluasi yang lebih
menekankan pada proses yang berlangsung secara kontinu. Misalnya, mengumpulkan
secara teratur hasil karya anak atau memotret aktivitas anak dalam model
pembelajaran yang digunakan. Prosedur ini lebih menekankan pengamatan
perkembangan anak didik dalam kurun waktu tertentu (proses) dalam konteks
keseharian yang otentik, daripada tes. Prosedur ini menurut penulis lebih tepat
untuk konteks pendidikan anak usia dini. Pertimbangannya karena melalui
prosedur tersebut, anak usia dini akan menampilkan dirinya secara optimal dalam
lingkup yang informal, alami, otentik, santai, dan bermakna.
Akan
tetapi, para pendidik umumnya menggunakan pendekatan formatif belum menunjukkan
kejelasan prosedur tersebut. Oleh karena itu, pendidik diharapkan berupaya
untuk menggunakan prosedur formatif lebih eksplisit.
Prosedur
formatif berfungsi menjaga keseimbangan antara perlakuan pendidik terhadap anak
didiknya melalui tanggapan anak didik terhadap tindakan pendidik.
Sedangkan
prosedur sumatif adalah salah satu prosedur asesmen dan evaluasi yang cara
pengumpulan datanya berlangsung sesaat dalam kurun waktu tertentu, hasilnya
dibandingkan dengan suatu norma tertentu juga. Evaluasi sumatif dan asesmen ini
dapat dilakukan dua kali setahun. Contoh evaluasi sumatif: pemeriksaan taraf
kemampuan membaca anak dengan tes membaca atau pengisian format kemajuan
perkembangan anak dalam KMS (Kartu Menuju Sehat) di posyandu, dan lain
sebagainya.
Prosedur
sumatif dapat dilakukan dalam anak usia dini dengan mengingat perbedaan
individual pada anak. Oleh karena itu acuannya adalah PAI (Penilaian Acuan
Individual), bukan PANK (Penilaian Acuan Norma Kelompok). Penganut paham
positivistik-empiris atau dikenal kaum behaviorisme berpendapat bahwa hasil
terbaik dalam pendidikan ialah apa yang nampak dan terukur. Jika ini diterapkan
untuk PAUD maka hasil pendidikan anak yang tak dapat muncul begitu saja.
Fenomena hasil pendidikan yang muncul pada anak pun tak mudah untuk diukur
secara kuantitatif sebagaimana pertumbuhan fisik anak.
b. Prosedur
Formatif dan Sumatif sebagai Kesatuan
Pendekatan
interaksionis yang diimplementasikan pada program PAUD tentu dapat memungkinkan
penggunaan kedua prosedur tersebut (formatif dan sumatif) secara terpadu dalam
asesmen dan evaluasi. Karena pendekatan interaksionis tidak mengabaikan
interaksi antara anak dengan lingkungannya baik alam, benda sekitar, orang
dewasa, teman sebaya, gagasan dari luar maupun dalam diri anak. Interaksionisme
disebut juga konstruktivisme atau konstruktivisme, dan dalam pendidikan anak
usia dini terwujud dalam pengembangan model pembelajaran interaksionis.
Penggunaan
prosedur formatif dan sumatif dalam pendidikan anak usia dini, seharusnya
memiliki acuan dalam konsep DAP (Developmentally
Aproriate Practice). Hal tersebut merupakan ciri khas dalam pendidikan anak
usia dini. Tanpa adanya kesatuan dalam penggunaaan pendekatan tersebut, akan
mengalami ketimpangan dalam melakukan evaluasi di PAUD.
c. Arti
Keterpaduan Prosedur Formatif dan Sumatif bagi Orang Tua Anak
Orang
tua merupakan rekan kerja bagi pendidik dalam melakukan evaluasi pembelajaran
di PAUD. Pentingya keterlibatan orang tua dalam proses penilaian sebagai bentuk
mitra. Keuntungan menggunakan prosedur formatif sekaligus sumatif ialah bahwa
orang tua anak didik dan pihak lainya (misalnya penilik PAUD) diharapkan dapat
aktif terlibat dala proses pendidikan.
Keterlibatan
orang tua dapat berperan sebagai observer dala proses asesmen dan evaluasi ini
sangat bermanfaat. Orang tua akan dapat melihat dengan lebih jelas berjalannya
suatu proses pembelajaran yang memberikan suatu hasil/produk. Para orang tua
biasanya akan senang melihat kemampuan-kemampuan baru yang diperlihatkan
anaknya. Orang tua juga dapat memberikan saran pada sekolah jika menemukan
beberapa kelemahan dalam proses pembelajaran yang dialami anak. Sumber referensi:
S. Eko Putro Widoyoko, 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Anita, Yus,2011. Penilaian Perkembangan Belajar Anak TK. Jakarta: Kencana
Iksan, Waseso, 2014. Evaluasi Pembelajaran TK. Banten: Penerbit Universitas Terbuka.
CERPEN (Pejuang Subuh)
PEJUANG SUBUH
Waktu subuh adalah waktu manusia terlelap. Melepas
lelah. Melupakan kewajiban bertemu Tuhan dalam salat subuh berjamaah. Waktu
Subuh adalah pembeda antara orang munafik dan beriman. Malaikat pun menjadi
saksi saat subuh datang. Saksi bagi manusia-manusia yang mengingat Tuhannya.
***
Perkenalkan, aku Fahrul. Cerita ini
merupakan pengalaman nyata di tahun 2015 ini. Pengalaman yang selalu menyimpan
kenangan bagiku. Ya. Kenangan yang
membuat aku bersyukur. Bersyukur atas semua pengalaman berharga selama
merantau di Jakarta.
Ping.
Bunyi penanda pesan masuk di sosial mediaku Whatsapp.
Aku melihat handphone-ku. Pesan
tersebut berisi kegiatan kajian pejuang subuh yang dilaksanakan di Masjid Sunda
Kelapa Menteng. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Bulan Suci
Ramadan. Di acara tersebut, ada kegiatan pemutaran film cintasubuh dan kegiatan bakti sosial untuk korban pelanggaran HAM
di Myanmar, etnis muslim Rohingya. “Acara
ini keren juga. Sepertinya, aku harus ikut,” pikirku. Tapi, ada satu
kejanggalan yang aku tidak mengerti, Kejanggalan itu adalah penggunaan istilah
“pejuang subuh” di komunitas ini. Mengapa harus ada pejuang subuh, berlebihan
saja. Aku menutup pesan tersebut. Aku mengambil spidol dan memberikan tanda X
di kalender yang tertempel di dinding kosku.
***
Satu minggu lagi, bulan puasa tiba.
Aku masih belum menyelesaikan penelitianku. “Sepertinya, aku tidak pulang dulu
ke Samarinda”, pikirku. Aku menaiki bus TransJakarta
untuk ke lokasi penelitianku di Tanjung Priok. Penuh sesak keadaan di
dalamnya. Aku berdesak-desakan dengan penumpang lainnya ketika melangkahkan
kaki ke dalam bus. Untungnya, aku mendapatkan tempat duduk di bangku belakang.
Bus TransJakarta tetap melaju lancar
di jalur bebas hambatan. Kulemparkan pandanganku keluar jendela bus TransJakarta. Pemandangan gedung-gedung
yang menjulang langit silih berganti menghiasi pemandangan di luar bus.
Samar-samar, pemandangan itu hilang, berganti dengan wajah-wajah orang yang
kurindukan, ibu, adik-adikku, dan ayah.
Pikiranku masih melayang jauh, meninggalkan bus yang
menyesakkan ini. Meninggalkan sesaat dunia di sekitarku. Pikiran akan keinginan
untuk pulang ke Samarinda memenuhi isi kepalaku, tapi langsung berganti dengan
bayangan laporan penelitian akhir yang harus kuselesaikan.
Jika aku pulang, aku tidak ada waktu untuk
menyelesaikan penelitianku. Aku pasti disibukkan dengan acara ngabuburit bersama teman-temanku. Jika
aku tidak pulang, aku pasti merasa sedih karena lebaran tidak di kampung
halaman. Pikiranku menjadi liar. Keinginan untuk pulang ke Samarinda atau tetap
di Jakarta menyelesaikan tugas akhirku berputar-putar silih berganti memenuhi
pikiranku. Aku pejamkan mata sejenak dan menarik nafas dalam-dalam untuk
menenangkan pikiranku.
“Pemberhentian berikutnya halte
Plumpang Pertamina. Mohon periksa kembali barang dan bawaan Anda. Plumpang
Pertamina,” suara petugas bus TransJakarta
membuyarkan lamunanku. Aku menuju ke arah pintu keluar, mengantre bersama
penumpang yang hendak turun. Aku melanjutkan perjalanan ke tempat penelitian
dengan ojek.
“Bang,
antarkan saya ke jalan Alur Laut,”ucapku.
Seperti biasa, jawaban orang-orang Jakarta yang
sering aku dengar. “Siap Bang,” jawab si Tukang Ojek. Aku dibonceng oleh tukang
ojek. Tiada dialog selama perjalanan. Hiruk pikuk kemacetan membuat aku tidak betah
di Jakarta. Ah, sumpek dengan kepadatan
kendaraan yang kadang membuatku pusing.
“Bang, ini sudah sampai,” ucap tukang ojek. Aku pun
turun. “Makasih, Bang,” balasku.
Sampai juga akhirnya di tempat
penelitianku yang berlokasi di perumahan.Taman Bermain Intan, tempat yang
mengijinkan aku melakukan penelitian.
Assalamualaikum,
Bu May, ucapku dengan tersenyum.
Wa’alaikumsalam,
ayo masuk Kak Fahrul. Ini anak-anak sudah siap. Bahan-bahannya sudah siapkah?
tanya bu May.
“Siap, Bu.” Aku mengeluarkan
beberapa alat percobaan permainan untuk anak-anak ini. Kegiatan ini aku namakan
“Penjelajahan Planet Bumi”. Anak-anak tampak gembira menyambut kedatanganku.
“Om Fahrul,” ucap Rasya .
“Hai Rasya,” balasku dengan
melemparkan senyumanku. Tangan Rasya memegang jemariku. Dia genggam erat.
Tanganku membalas dengan usapan lembut
di kepalanya. Bercengkrama dengan anak-anak PAUD ini membuatku rindu
rumah. Iya benar. Aku rindu bermain dengan anak-anak di sekolahku. Aku merasa
menjadi anak-anak lagi ketika bercengkrama dengan mereka.
Ibu May membantu kegiatan
penelitianku. Kami menyiapkan kelas menjadi miniatur penampakan bumi. Hiasan
gunung, laut, perkotaan, dan pedesaan yang dirancang sebelumnya telah siap.
Kegiatan penelitian dimulai. Wajah anak-anak sangat ekspresif. Tidak ada
kesedihan. Tawa keras menggelegar seisi kelas. Aku menyembunyikan rasa rindu kampung
halamanku dengan ikut memasuki dunia mereka. Ibu May memimpin permainan. Kamera
digital berwarna merah andalanku siap merekam tingkah laku anak-anak.
“Ayo, kita jelajahi bumi sekarang!”
ucap Bu May penuh semangat. “Yeeee. Asik, jalan-jalan,” teriak Kinan. Tidak
kalah semangat, Rasya bernyanyi lagu naik-naik ke puncak gunung.
“Naik-naik ke puncak gunung. Tinggi.
Tinggi sekali,” suara merdu Rasya mulai bernyanyi. Tiba-tiba, terdengar suara
tangis Renti. “Huuaaaa. Ibuuuuuu!” teriak Renti. Ibu May berhenti. Dengan
naluri keibuannya, Ibu May mejajarkan wajahnya dengan Renti.
“Renti, kenapa menangis?” selidik
Ibu May.
“Rasya pukul aku, Bu. Kaki aku jadi
akit,” jelas Renti yang cadel.
Ibu May memanggil Rasya. “Rasya,
apakah benar kamu memukul Renti?” tanya Ibu May dengan lembut.
“Habis, dia jalannya lambat, Bu.
Rasya mau cepat,” jawab Rasya dengan kepolosannya. Ibu May menghela nafas.
Beberapa kata dibisikkan kepada Renti. Ibu May juga membisikan beberapa kata
kepada Rasya. Ibu May meminta Renti mengucapkan kata tersebut.
Renti berkata dengan lantang, “Rasya, aku gak suka. Sakit aku dipukul”. Ibu May
juga meminta Rasya untuk mengucapkan kata yang dibisikkan ke telinganya. “Iya,
aku tidak sengaja. Maafkan aku,” balas Rasya. Rasya pun memberikan tangan
kanannya kepada Renti. Tanda meminta maaf secara langsung kepada Renti. Renti
menyambut dengan hangat. Ibu May tersipu-sipu melihat dua anak kesayangannya. Aku terkesima dengan cara Ibu May menangani
kedua anak ini. Tanpa ikut campur melerai mereka. Ibu May tidak menyalahkan
Rasya, juga tidak membela Renti. Ibu May memang guru yang luar biasa.
Penelitian pun selesai. Aku bergegas pulang.
“Ibu May, terima kasih untuk bantuannya selama ini.
Karena minggu depan sudah puasa dan penelitiannya sudah selesai, saya tidak ke sini
lagi, ucapku.
Ibu May mengangguk. Kedua bola mataku menatap lama
suasana kelas ini. Setiap sudut. Setiap
jengkal. Aku merasakan kehilangan tempat nostalgia kampung halamanku. Di tempat
penelitian ini, aku merasa berada di rumah. anak-anak PAUD yang menemaniku.
Orang tua mereka yang ramah dan bersahabat, guru-guru yang mau membantu selama
penelitian, bahkan Pengelola Sekolah yang menganggap aku seperti anaknya
sendiri. Beruntung sekali aku melakukan penelitian di tempat ini yang diberikan
kemudahan. Aku pun terbawa lamunan.
Tiba-tiba Rasya menubrukku dari depan. “Oom,,,aku
mau pangku”, ucap Rasya. Ibu May tidak menegur Rasya. Dia mengabaikan tingkah
Rasya. Aku hanya membelai rambut Rasya sambil merekam suasana kelas yang mau
bubar.
***
Aku melanjutkan perjalanan ke kosan.
Seperti biasa, aku mengantre bus TransJakarta.
Aku melihat tanggal di handphone-ku.
Pikiranku mulai berkeliaran ke dimensi lain. Keputusan untuk pulang atau tidak
ke Samarinda belum aku tetapkan. Di dalam bus TransJakarta, aku bermain handphone.
Bukannya memutuskan untuk pulang atau tidak ke Samarinda, aku malah berpikir
tentang broadcast info pejuang subuh.
Kenapa juga ada komunitas seperti itu? Apakah mereka tidak ria? Membanggakan
ibadah mereka. Aaahh! Sudahlah!.
Akhirnya, aku sampai juga di kos
tercinta. Rumah kedua bagiku. Aku segera menutup kamar. Mengunci rapat-rapat.
Laptop kembali aku nyalakan. Sedikit demi sedikit aku melaporkan hasil
penelitian. Tidak terasa malam hampir tiba. Aku lupa shalat Zuhur dan Ashar. Azan
magrib pun tidak terdengar di telingaku karena hasrat ingin menyelesaikan
laporan penelitianku. Aku berkutat di depan laptop hingga pukul 22:00. Hatiku
merasa janggal. Biasanya, di Samarinda, aku diingatkan oleh Ibu dan Ayah untuk
salat. Di Jakarta ini, aku bebas. Tidak ada siapapun yang melarangku. Aku bebas
melakukan apa saja yang aku mau. Untuk bercakap-cakap dengan anak-anak kosanku
saja, hanya sesekali aku lakukan. Tidak penting bagiku. Karena saat ini, aku
sedang berjuang lulus kuliah tahun ini. Tapi, hatiku tetap merasa tidak nyaman.
Aku merasa ada yang kurang.
Kedua mataku melihat jadwal yang aku
beri tanda X. Tanggal 13-14 Juni 2015 ke Masjid Sunda Kelapa. Hari ini. Rasa
penasaran masih menggelayutiku. Naluri keingintahuanku menuntun aku untuk
memutuskan pergi ke acara pejuang subuh itu. Akhirnya malam ini, aku memutuskan
untuk pergi ke acara tersebut. Iya. Malam pencarian informasi tentang komunitas
pejuang subuh.
***
Tiba saatnya, aku mengikuti kegiatan
pejuang subuh. Rasa penasaranku akan terpecahkan. Aku duduk di atas kursi bus TransJakarta, menggerakan jemariku di
atas layar handphone untuk mencari
informasi sebanyak-banyaknya tentang penjuang subuh. Tapi nihil. Tak banyak
informasi yang aku dapat dari penyelusuran di internet. Hanya seputar iklan
kegiatan kajian pejuang subuh yang dilaksanakan di Masjid Sunda Kelapa Menteng.
Jadi, aku mau tidak mau harus mengikuti kegiatan ini sampai besok. Pilihan
bermalam pun aku lakukan. Peralatan mandi saja yang aku bawa. Teman-teman kos
tidak ada yang mau diajak. Aku malah ditertawakan. Mereka menertawakan istilah
pejuang subuh itu. Biarlah aku ditertawakan kali ini.
Aku berjalan menuju Masjid Sunda
Kelapa. Tampak sekeliling perjalananku rumah-rumah yang berlapis pagar yang
tinggi sekali. Bagai musafir yang tidak tahu arah, aku hanya mengikuti
orang-orang yang mengenakan baju koko lengkap dengan peci di kepala mereka.
Banyak sekali orang-orang yang
berdatangan. Aku terkejut. Aku segera bergegas karena azan magrib telah
berkumandang. Aku menitipkan sepatuku ke petugas masjid, tetapi, petugas
tersebut berkata, “Mau bermalam juga? Titip di sana saja,” terangnya. Aku
mengangguk.
Barisan pemuda penyambut tamu tampak
masih berdiri di depan meja. Mereka mengenakan pakaian coklat dan peci hitam. Aku
diminta mengisi buku tamu. Salat magrib pun dilaksanakan. Allahu Akbar.
Sesudah salat magrib, pembawa acara
berdiri mengumumkan beberapa rangkaian acara. Aku mengeluarkan buku kecil
catatanku. Dengan seksama aku mendengarkan setiap perkataan pembawa acara.
“Assalamu’alaikum,
selamat datang Bapak dan Ibu semua. Acara hari ini spesial sekali ada pemutaran
film cintasubuh2, lelang untuk korban
muslim etnis Rohingya, ceramah
sejarah islam, dan kuliah subuh menyambut Ramadhan,” ucap pembawa acara. Mari
kita saksikan film pendek cintasubuh2.
Penonton bertepuk tangan. Para pemuda dan Bapak pun turut hadir. Yang membuatku
bingung, kenapa harus dipisah oleh pembatas laki-laki dan perempuan di acara
ini. Naluri keingintahuanku semakin bertambah. Tiba-tiba, pemuda berkaca mata
yang berbadan gemuk berdiri. Dia memperkenalkan komunitas Pejuang Subuh. Aku
jadi semangat. Aku akan menemukan jawaban.
Pemuda itu berkata, “Kami adalah
para aktivis yang memiliki impian ingin meramaikan salat subuh berjamaah
seramai salat Jumat di masjid. Kami menamakan komunitas ini, Pejuang Subuh.
Bagi adik-adik, Ibu-Ibu, dan Bapak-Bapak yang ingin menjadi anggota komunitas
bisa bergabung dengan kami melalui panitia. Kami memiliki motto “Salat subuh
seramai salat jumat”. Aku terdiam. Kata-kata pemuda itu seperti menampar aku.
Subuh adalah waktu di mana aku paling susah untuk bangun. Aku suka bergadang
sampai pagi. Berkutat dengan tugas penelitianku sehingga di saat azan Subuh berkumandang,
aku masih bergemul dengan selimutku.
“Kami memiliki para pejuang subuh
yang sudah salat subuh berjamaah selama 40 hari berjamaah berturut-turut di
masjid. Semboyan untuk para pejuang ini adalah “istiqomah sampai khusnul khotimah,” ucap pemuda tersebut. Telah berdiri
sebanyak sepuluh orang, menyampaikan kesan menjadi anggota Pejuang Subuh. Aku
mendengarkan dengan baik. Perasaanku terharu. Aku menjadi sedih. Entahlah.
Kenapa aku menjadi seperti ini.
Waktu Isya tiba. Semua bersiap untuk
salat. Kegiatan dihentikan sementara. Allahu
Akbar. Suara takbir imam shalat terdengar seantero Masjid Sunda Kelapa.
Lantunan bacaannya membuat hatiku bergetar. Tidak terasa air mataku jatuh. Ada
semacam perasaan takut dan tenang mendengar bacaan sang imam di hatiku. Tiba-tiba
bayangan masa laluku terpancar di hadapanku. Banyak sekali waktu-waktu salat
yang aku abaikan. Bayangan wajah kedua orang tuaku juga sepintas hadir di
hadapanku. Semakin syahdu salatku.
***
Pembawa acara kembali berdiri. Dia
memutarkan film pendek cintasubuh2.
Aku menghapus air mataku. Film pun diputar. Film ini bercerita tentang pemuda
yang mengalami patah hati karena kekasihnya memutuskan hubungan asmara mereka
karena tidak pernah salat Subuh. Akhirnya, dia memilih benar-benar bertobat.
Pemuda itu meminta temannya untuk membangunkan dia. Berat rasanya bangun untuk salat
Subuh di awal-awal. Pemuda itu sampai disiram air karena tidak bangun. Dan ada
momen saat temannya menggunakan cara yang menyakitkan. Temannya mengambil
penjepit baju dan tali rafia. Penjepit baju yang kecil itu dijepitkan di
bibirnya hingga akhirnya dia terbangun. “Arrggggggghhh!”
teriak pemuda itu. Tertawalah semua penonton menyaksikan adegan tersebut.
Rasa penasaranku tentang pejuang subuh
ini telah terjawab. Aku pun menjadi tertarik untuk bergabung. Rangkaian acara
lain tetap aku ikuti dengan baik. Lelang barang pejuang subuh, ceramah, hingga
kegiatan malam bimbingan takwa atau dikenal mabit,
serta kuliah subuh menyambut Ramadhan. Aku ikuti semua. Niatku sudah mantap.
Aku ingin memperbaiki diriku. Aku melangkahkan kakiku ke meja panitia. Aku
mendaftar untuk menjadi anggota pejuang subuh.
“Mas, saya juga mau jadi anggota pejuang subuh,”
ucapku.
“Iya, silakan tulis nomor handphone yang ada Whatsapp-nya,
Mas,” ucap panitia. Aku mengangguk. Aku tulis nomor handphone-ku di secarik kertas yang disodorkan kepadaku. Minggu
pagi pun aku lalui dengan rasa kantuk. Semalaman aku tidak tidur. Aku
beribadah. Ketenangan hati aku dapatkan. Aku tidak menyesali menghadiri
kegiatan ini. Aku menuju kosan.
***
Tiga hari kemudian, HP-ku berbunyi. Ping, tanda pesan masuk. Ternyata ada
nomor baru. Kang Oman, salah satu pejuang subuh. Dia memperkenalkan diri. Aku
pun membalas. Kami saling tukar informasi. Kang Oman memberikan beberapa
peraturan tentang program pejuang subuh dan keberhasilan program tersebut. Kang
Oman berkata, “Salat Subuh dan Isya adalah shalat yang terasa berat bagi orang
munafik. Insya Allah saya akan membantu Mas Fahrul,” tutupnya.
Aku memutuskan tidak pulang ke Samarinda dan tetap
di Jakarta. Hari pertama aku belajar bangun subuh di mulai. Aku bersiap tidur
lebih awal. Aku menuruti pesan Kang Oman. Sebelum tidur, ber-wudhu terlebih dahulu.
Niatkanlah bangun untuk salat Subuh”. Alarm handphone pun diatur lebih keras.
Aku pun tertidur.
Pukul 05:30, aku baru bangun. Laporan panggilan di
handphoneku ada sebanyak 6 kali dari Kang Oman. Hari pertama aku gagal. Susah
juga aku bangun subuh, ucapku.
Peraturan yang tertera di dalam grup pejuang subuh,
“Bagi anggota yang salat Subuhnya berjamaah di masjid melapor dengan simbol
onta. Bagi yang telat datang berjamaah, tetapi masih bisa berjamaah melapor
dengan simbol domba. Bagi yang telat salat Subuh atau tidak shalat Subuh,
melapor dengan simbol ayam”. Aku pun melapor diri dengan simbol ayam.
Kang Oman berkata, “Mas Fahrul, kenapa kesiangan?,
tanyanya.
Nggak tau Kang, Saya mah sudah mengatur alarm kok, jawabku.
“tetap semangat Mas Fahrul”, balas Kang Oman.
Hari demi hari, aku jalani program pejuang subuh ini
yang memang sulit. Aku selalu susah
bangun lebih awal. Hingga akhirnya. Di hari ke-7, aku berhasil bangun lebih
awal. Itu pun terbangun karena mimpi buruk dikejar-kejar orang gila yang
membawa pisau. Keringat dingin bercucuran membasahi dahiku. Aku pun bergegas menuju musala yang ada di
dekat kos. Sarung kotak-kotak berwarna merah-, dan peci putih sudah aku
kenakan. Langkah kakiku mantap menuju musala. Salat sunnah sebelum salat Subuh
aku laksanakan.
Satu per satu orang mulai berdatangan. Kebanyakan
para orang tua renta. Tidak ada anak muda atau remaja. Aku terkejut. Aku
membayangkan negeri Turki yang setiap hari ramai salat Subuh seperti salat Jumat.
Pantas saja Turki lebih maju dari negeri ini. Bahkan lebih makmur penduduknya. Azan
Subuh pun berkumandang.
As’shalatuukho’irumminannaum…….
As’shalatuukho’irumminannaum……..
“Akhirnya, aku berhasil salat Subuh berjamaah,
ucapku lirih. Subhanallah-, Jadi ini
nikmat berjama’ah salat Subuh. Udara subuh memang sangat segar. Pikiranku juga
terasa lapang. Aku pun bergerak merasa tidak ada beban. Aku merasa bahagia.
Kebahagiaan kecil yang menyentuh hatiku.
Aku pun
melapor di grup pejuang subuh. Simbol yang selalu ayam, kini berubah menjadi
onta.
Kang Oman membalas dengan pesan singkat, “Alhamdulilah mas Fahrul. Pertahankan.
Niatkan karena Allah ya mas. Insya Allah bisa 40 hari berturut-turut berjama’ah
salat Subuhnya”,tulisnya.
Aku membalas dengan singkat, “-Insya Allah Kang.











