Blog yang memuat tentang pendidikan anak usia dini, catatan Hasan Harun, karya fiksi dan non fiksi serta motivasi diri. Selamat membaca. Ambil yang baik, dan tinggalkan yang buruk.

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 20 Mei 2018

KUMPULAN SILABUS DAN RPP MATA KULIAH YANG DIAMPU

  1. KAPITA SELEKTA PAUD
  2. ASESMEN AUD
  3. PENGEMBANGAN APE
  4. MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PAUD
  5. KESEHATAN DAN GIZI
  6. MODEL PENGEMBANGAN SOSEM AUD
  7. TEORI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
  8. BERMAIN DAN PERMAINAN
  9. KAJIAN DAN PENGAMATAN AUD
Share:

Jumat, 05 Februari 2016

Tanda Orang Berakal

Akal merupakan alat untuk berpikir pada manusia. Akal adalah warisan berharga dari Tuhan untuk manusia. Dialah hulu hikmah. Lantaran akal datangnya taklif perintah agama. Di dalam agama barulah sah perintah dipikulkan. Tidak dipikulkan bila seseorang tidak mempunyai akal. Tidaklah terpikulkan agama untuk orang yang gila dan anak-anak belum berakal. Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul falsafah hidup mengatakan arti kata akal adalah “ikatan”. Kata ini lebih cocok dengan tempat pengambilan, ibarat tali yang mengikat unta, akal itu mengikat manusia. Dalam sebuah pepatah Melayu pun telah ada, “Mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akal”. Manusia memiliki akal merupakan sebuah keistimewaan dari Allah yang diberikan daripada makhluk yang lain. Melalui akal, manusia bisa mendapat derajat yang baik di sisi Allah. Bahkan, manusia juga bisa mendapat derajat yang rendah daripada binatang. Buya Hamka pun berkomentar tentang manusia dengan kehidupannya. Berikut pernyataan Buya Hamka, “Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja” Kata-kata yang tersimpan banyak makna bagi mereka yang berakal. Menjadi orang yang berakal sudah barang tentu memiliki tanda-tanda. Berikut merupakan tanda-tanda orang berakal yang bisa dijadikan renungan untuk peningkatan diri lebih baik dari kemarin. Marilah pelajari dan lakukan dengan semampu kita.
 Orang yang berakal, luas pandangannya kepada sesuatu yang menyakiti atau yang menyenangkan. Pandai memilih perkara yang memberi manfaat dan menjauhi yang akan menyakiti. Dia lebih memilih yang lebih kekal walaupun sulit jalannya daripada yang mudah didapat padahal rapuh. Pandangannya juga luas, ditimbangnya sebelum dikerjakannya. Sebab mengharap keutamaan dengan tidak mempergunakan pemandangan adalah pekerjaan yang sia-sia.
 Orang yang berakal selalu menaksir harga dirinya, menaksir harga diri adalah dengan menilik hari-hari yang dilalui, adakah dipergunakan kepada perbuatan-perbuatan yang berguna, dan hari yang masih tinggal ke manakah pula digunakan. Baik atau buruk nilai harga diri, tergantung pada apa yang dperbuat setiap hari di lalui. 
 Orang berakal selalu berbantahan dengan dirinya. Kalau diri menempuh kejahatan dihukumnya dirinya bahwa yang namanya kejahatan itu berbahaya, merugikan, dan dapat mencelakakan. Apabila diri itu ada yang mengingat yang baik-baik dan buah hasil, dengan mudah diri sendiri akan menunjukkan. 
 Orang yang berakal selalu mengingat kekurangannya. Bahkan jika perlu dituliskannya di dalam sebuah buku peringatan setiap hari. Baik kekurangan pada agama, atau pada akhlak dan kesopanan.  Orang yang berakal dilhatnya kebaikan budi pekerti orang lain. Dipujinya di dalam hati dan ditimbulkannya cita-cita hendak meniru, seraya diangsurnya pula meneladani selangkah demi selangkah. Kalau hendak mencari teman, handai tolan, dan sahabat, orang berakal memilih orang yang mempunyai kelebihan baik dalam perkara agama atau ilmu atau budi kesopanan.
 Orang yang berakal tidak berduka cita lantaran ada cita-citanya di dunia yang tidak sampai atau nikmat yang meninggalkannya. Diterimanya apa yang terjadi atas dirinya dengan tidak merasa kecewa dan tidak putus-putusnya berusaha.
 Orang yang berakal enggan menjauhi orang yang berakal pula, karena tanpa teman yang berakal, akan lemahlah dia, dan dengan bersama akan dapat dia membandingkan di mana kekurangannya dan di mana kelebihannya. 
 Orang yang berakal tahu membedakan manusia, sebab itu dia tidak canggung bergaul dengan siapapun. Manusia dibaginya dua. Pertama orang yang awam. Perkataanya di sana dijaganya, tiap-tiap kalimat yang keluar dari mulutnya dibatasi. Kedua ialah orang yang khawas (orang-orang utama). Di sanalah dia merasa lezatnya ilmu. Kepada yang lebih dari dia, dia belajar. Kepada yang sama dengan dia, dia membandingkan dirinya.
 Orang berakal memandang segala besar segala kesalahan itu. Walaupun bagaimana kecilnya di mata orang lain. Dia tidak memandang kecil suatu kesalahan. Karena bila memandang kecil suatu masalah, kita tidak merasa bahwa kesalahan itu besar, atau tak dapat membedakan lagi mana yang kecil dan mana yang besar. 
 Orang yang berakal sadar bahwa di antara akal dan nafsu, atau di antara pikiran dan hawa tidak ada persetujuan. Kehendak nafsu manis di awalnya, dan pahit di ujungnya.
 Orang berakal tidaklah berduka hati. Karena kedukaan itu tidak ada artinya.
 Orang berakal tidaklah menjawab sebelum ditanya. Tidak pula menjawab pertanyaan lebih dari mesti, supaya jangan dikatakan orang: tidak pandai memegang rahasia. Tidak pula suka menghinakan orang. 
 Orang yang berakal tidaklah tersembunyi bagian cela dirinya, karena orang yang lupa memandang aib dirinya sendiri, akan lupalah kepada kebaikan orang lain. Maka lupa akan aib diri itu adalah bencana hidup. 
 Orang berakal pergi ke medan perang membawa senjata. Berbantah dan bertukar pikiran dengan cukup alasan. Berlawan dengan kekuatan. Karena dengan akallah tercapai hidup, dengan budi teranglah hati, dengan pikiran tercapai maksud, dan dengan ilmu ditaklukkan dunia.
 Orang berakal pandai membandingkan yang belum ada dengan yang telah ada, yang belum didengar dengan yang sudah didengar. Umurnya yang tinggal dibandingkannya dengan yang telah pergi. 
 Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan untuk dirinya sendiri.
Share:

Minggu, 17 Januari 2016

Catatan Hasan Harun (Mengenal Cinta dari Berbagai Konsep)



Mengenal Cinta dari Berbagai Konsep (Ensiklopedia Cinta)

Cinta. Satu kata. Berjuta makna. Membicarakan cinta tidak pernah habis. Menikmati cinta pun juga tidak akan pernah menemukan kepuasan. Lantas, seperti apakah cinta itu? Penulis menelusuri konsep cinta yang dikaji dari beberapa literatur. Banyak peristiwa atau fenomena sosial yang selalu berhubungan dengan cinta. Sejak bangun tidur hingga tertidur tidak pernah dunia berhenti berinteraksi dengan cinta. Cinta pun menembus ruang dan waktu. Cinta juga menguatkan orang lemah. Bahkan, cinta juga membuat Raja menjadi budak.
            Detik ini, jutaan referensi dan para pakar di bidang keilmuan memiliki pengertian sendiri mengenai konsep cinta. Sebelum meneguk cinta yang dengan segala problematikanya dan mendalam, perlu memahami apa itu cinta?. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta memiliki beberapa arti, yaitu suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali, berharap sekali, rindu, dan susah hati (khawatir).
            Ada yang mendefinisikan cinta sebagai perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah, dan lain-lain)., namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan. Haruslah menutupi kekurangan, mau menerima pasangannya apa adanya tanpa paksaan oleh salah satu pihak, dan berbagi suka dan kesedihan bersama.
Bahkan, ada yang mengatakan cinta itu adalah kelembutan. Dia diuji oleh godaan, dikuatkan oleh kesusahan, yang tidak berubah oleh ketidakhadiran. Namun, dari itu semua, cinta tidak akan lekang oleh waktu. Cinta adalah pengertian, saling menguntungkan, berbagi, saling memaafkan, dan kesetiaan melalui waktu yang baik dan buruk.
Definisi cinta dari beberapa pakar pun berbeda. Seperti pakar fisika, mendefinisikan cinta sebagai gaya tarik menarik antara dua manusia berlainan jenis yang besarnya berbanding lurus dengan intensitas pertemuan, menyebabkan terjadinya gerak lurus beraturan untuk saling mendekat, sehingga menimbulkan resonansi antara dua hati. Akhirnya melebur menjadi satu dengan frekuensi gelombang cinta yang sama.
            Sedangkan menurut ahli kimia, cinta adalah reaksi yang melibatkan beberapa unsur yaitu P (Pandangan), Se (Senyuman), Li(Lirikan), dan RA (Rayuan) dengan katalisator S (Suka dan Sayang) sehingga menjadi senyawa C1NT4.
                Mari kita menelusuri konsep cinta dari tokoh islam, Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, salah seorang tokoh ulama dan juga pakar cinta yang menemukan 60 istilah yang berkaitan dengan cinta. Dalam tulisan ini, penulis hanya mampu menelaah 4 istilah dari sumber referensi, yaitu, Al Mahabbah, Al Hawa, Asy Syauqu, dan Al Wahl.
            Pertama, Al mahabbah. Kata ini paling umum digunakan untuk menggambarkan cinta. Dari satu kata ini, ternyata masih mengandung banyak makna yang dikaitkan dengan akar katanya. Kata al mahabbah bisa berarti bening, bersih, tenang, teguh, biji tanaman, usungan bejana, buah hati, dan lain-lain, bergantung pada konteks kalimatnya. Tetapi, secara umum, al mahabbah dimaknai sebagai kasih sayang.
            Kata al mahabbah mencakup beberapa unsur, antara lain:
1.    Kecenderungan secara terus menerus dengan disertai hati yang meluap-luap.
2.    Mendahulukan kepentingan atau keinginan orang yang dicintai dari hal-hal lain.
3.    Menuruti keinginan orang yang dicintai, baik ada dia maupun tidak.
4.    Menyatukan keinginan orang yang mencintai dan dicintai.
5.    Hati orang yang mencintai tak terbendung untuk tidak mengingat orang yang dicintai.
6.    Menyerahkan dan melakukan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintainya sehingga tidak ada yang tersisa.
7.    Menyingkirkan apa yang ada di dalam hati kecuali orang yang dicintai.
8.    Cemburu terhadap orang yang dicintai apabila kehormatannya berkurang.
9.    Menjaga batas.
10.    Tenang tapi gundah dan gundah tapi tenang.
11.    Keteguhan hati terhadap orang yang dicintai.
Unsur-unsur di atas, apabila dicampur menjadi satu dalam sebuah bejana hati, lalu dibumbui dengan ketulusan, dan dibakar dengan api pengharapan, maka akan menghasilkan seluruh hidangan kasih sayang yang murni. Jika dihidangkan dengan cawan keimanan akan menghasilkan kenikmatan sempurna bagi jiwa yang membutuhkannya.
Kasih sayang merupakan tingkatan cinta yang lebih tinggi dan bersifat universal. Ia berlaku tidak hanya untuk lawan jenis saja, melainkan terhadap orang tua, saudara, semua orang, dan makhluk lainnya. That’s very nice. Kasih sayang yang dimiliki kita sebagai manusia merupakan perwujudan representatif dari sifat Allah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim). Seperti yang Rasullulah sabdakan di HR. Muslim di bawah ini;
Allah menjadikan kasih sayang-Nya terbagi dalam seratus bagian. Dia menahan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dari satu bagian itulah para makhluk saling kasih-mengasihi sehingga seekor induk binatang mengangkat cakarnya dari anaknya karena takut melukainya”.
Kedua, Al-Hawa. Al- Hawa berarti kecenderungan, hasrat, dan nafsu jiwa terhadap orang yang dicintainya. Al- Hawa atau hawa nafsu biasanya dikonotasikan negatif. Walaupun demikian, ada nafsu yang dirahmati oleh Allah.
Nafsu merupakan salah satu fitrah dari Allah yang ditanamkan pada manusia. Oleh karena itu, janganlah berusaha menghilangkan nafsu seperti para rahib dan pendeta tetapi jangan pula memperturutkan nafsu sekehendak kita saja seperti binatang atau bahkan lebih rendah dari itu. Seyogyanya nafsu dibingkai dengan ketakwaan kepada Allah, sehingga penyalurannya sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan dalam agama.
Ketiga, Asy Syauqu yang berarti rindu atau pengelanaan hati untuk bersua orang yang dicintai. Kerinduan merupakan bara dan kobaran api yang bersemayam dalam hati orang yang mencintai yang mendorongya untuk selalu berdekatan dan berhubungan dengan orang yang dicintai.
Keempat, Al Wahl yang berarti takut atau gemetar. Seseorang yang melihat orang yang dicintainya akan berubah rona wajahnya dan gemetar hatinya karena cinta yang menguasainya.
Demikianlah, konsep cinta yang ditelusuri oleh penulis dari berbagai rujukan. Di luar sana banyak definisi tentang cinta. Semua mendefinisikan cinta ini berdasarkan pengalaman hidup dalam mengenal cinta. Namun, obat yang paling mujarab bagi cinta adalah menikah. Tulisan berikutnya akan penulis sajikan dalam tema tulisan berjudul “Mempersiapkan Diri”. Sebuah tulisan yang ditulis yang bertujuan untuk menjadi “alarm” bagi penulis sendiri. Karena prinsipnya, jodoh adalah rahasia ilahi. Sebelum menikah, kita tidak akan pernah tahu siapa jodoh kita. Oleh karena itu, daripada terlalu fokus pada sosok yang dinanti lebih bijak jika kita fokus pada diri sendiri. Semoga bermanfaat sahabat!

Sumber Referensi:
Agus, Susanto, 2013. Rational Love (Nikmatnya Cinta Tanpa Galau).Jakarta:PT.Elex Media Komputindo.

Al Jauziyah, Ibnul Qayyim, 2004. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Penerjemah: Kathur Suhardi. Jakarta: Darul Falah.

Al-qur’an Al Karim, surah Yusuf, ayat 53.

Lubis, Arif Rahman, 2014. Halaqah Cinta. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.

Share:

Jumat, 15 Januari 2016

Evaluasi Pembelajaran PAUD (1)



EVALUASI PEMBELAJARAN PAUD (1)
OLEH: FAHRUL ROZIE
Permasalahan dalam pembelajaran di dunia pendidikan anak usia dini sering di jumpai guru tidak mengetahui dengan pasti mengenai penilaian. Kesulitan guru dalam melakukan penilaian masih sering terjadi.Padahal penilaian di proses pembelajaran PAUD merupakan deskripsi ketercapaian perkembangan anak. Deskripsi ini akan memberikan informasi pada orang tua mengenai kesiapan belajar anak memasuki SD. Guru juga tidak bisa membedakan yang mana assesment dan evaluasi (penilaian). Berangkat dari hal tersebut, penulis mencoba menuangkan beberapa uraian mengenai evaluasi pembelajaran paud. Harapan bagi para guru untuk dapat menerapkan penilaian yang tepat sasaran dan sesuai dengan perkembangan anak usia dini.
A.     Perbedaan Asesment dan Evaluasi Pembelajaran Anak Usia Dini
Dengan mengetahui perbedaan asesment dan evaluasi, guru dapat memiliki kemampuan yang kompeten dalam melakukan proses penilaian. Kedua istilah tersebut berbeda makna. Berbeda pengertian. Sehingga dengan mempelajari konteks perbedaan tersebut, guru tidak akan asal-asalan menilai anak di kelas.
Perlu diketahui, secara umum terdapat tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian (tes, measurement, and assesment). Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons terhadap stimulus atau pertanyaan (Eko Putro Widoyoko,2009:2). Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan karakteristik objek. Dalam hal ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat, maupun motivasi.
Pengukuran (measurement) dapat didefinisikan sebagai proses penetapan angka terhadap individu atau karakteristiknya berdasarkan aturan tertentu (Ebel & Frisbie,1986:14). Sehingga esensi pengukuran adalah penetapan angka tentang karakteristik atau keadaan individu menurut aturan tertentu. Keadaan tersebut bisa berupa kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor. Berbeda dengan tes. Pengukuran jauh lebih luas. Pengukuran dapat digunakan tanpa melakukan tes, misalnya dengan pengamatan, skala rating, atau cara lain untuk memperoleh informasi dalam bentuk kuantitatif.
Asesmen memiliki makna yang berbeda dengan evaluasi. The Task Group on Assesment and Testing (TGAT) mendeskripsikan asesmen sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok (Griffin & Nix, 1991:3). Asesmen dalam konteks pendidikan sebagai usaha formal untuk menentukan status siswa berkenaan dengan pendidikan (Popham,1995:3). Dengan kata lain, asesmen dapat diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran berdasarkan kriteria maupun aturan tertentu.
Mengevaluasi pendidikan anak berarti, memeriksa pendidikan yang diterima anak itu (McDonald, B ;1982), dan mengamati, meneliti seberapa besar kesenjangannya (asas diskrepansi) materi pendidikan yang telah diberikan pada anak didiknya terhadap tujuan atau taraf kemiripannya (asas kongruensi) dengan gambaran yang telah ditentukan atau diharapkan sebelumnya akan terwujud menurut pola perkembangan anak pada tahap usia tertentu.
Adapun asesmen berkaitan dengan memperhatikan dan mendeskripsikan kemajuan proses pendidikan anak, yaitu apakah ada bukti kemajuan anak ke arah tujuan program pendidikan dan bagaimana respon anak didiknya pada metode yang dipergunakan dan isi pendidikan yang diberikan.
Dengan demikian, melalui asesmen dan evaluasi para guru terlibat dalam 2 hal, yaitu:
a.     Apa yang disiapkan dan ditawarkan untuk anak didiknya, misalnya: program pembelajaran kontemporer, life skills, dan
b.     Bagaimana tawaran itu ditanggapi anak karena setiap anak mempunyai gaya belajar sendiri, bahkan bisa oto-edukasi.

B. Prosedur Asesmen dan Evaluasi
Prosedur merupakan langkah - langkah atau tahapan dalam melakukan sesuatu. Berikut akan diuraikan satu per satu mengenai prosedur yang biasanya digunakan dalam asesmen dan evaluasi pembelajaran PAUD.
a.     Prosedur Formatif dan Sumatif
Terdapat dua prosedur pelaksanaan dalam evaluasi, yaitu: prosedur formatif yang menekankan pada proses dan prosedur sumatif yang berorientasi pada hasil.
Prosedur formatif merupakan suatu langkah dalam asesmen dan evaluasi yang lebih menekankan pada proses yang berlangsung secara kontinu. Misalnya, mengumpulkan secara teratur hasil karya anak atau memotret aktivitas anak dalam model pembelajaran yang digunakan. Prosedur ini lebih menekankan pengamatan perkembangan anak didik dalam kurun waktu tertentu (proses) dalam konteks keseharian yang otentik, daripada tes. Prosedur ini menurut penulis lebih tepat untuk konteks pendidikan anak usia dini. Pertimbangannya karena melalui prosedur tersebut, anak usia dini akan menampilkan dirinya secara optimal dalam lingkup yang informal, alami, otentik, santai, dan bermakna.
Akan tetapi, para pendidik umumnya menggunakan pendekatan formatif belum menunjukkan kejelasan prosedur tersebut. Oleh karena itu, pendidik diharapkan berupaya untuk menggunakan prosedur formatif lebih eksplisit.
Prosedur formatif berfungsi menjaga keseimbangan antara perlakuan pendidik terhadap anak didiknya melalui tanggapan anak didik terhadap tindakan pendidik.
Sedangkan prosedur sumatif adalah salah satu prosedur asesmen dan evaluasi yang cara pengumpulan datanya berlangsung sesaat dalam kurun waktu tertentu, hasilnya dibandingkan dengan suatu norma tertentu juga. Evaluasi sumatif dan asesmen ini dapat dilakukan dua kali setahun. Contoh evaluasi sumatif: pemeriksaan taraf kemampuan membaca anak dengan tes membaca atau pengisian format kemajuan perkembangan anak dalam KMS (Kartu Menuju Sehat) di posyandu, dan lain sebagainya.
Prosedur sumatif dapat dilakukan dalam anak usia dini dengan mengingat perbedaan individual pada anak. Oleh karena itu acuannya adalah PAI (Penilaian Acuan Individual), bukan PANK (Penilaian Acuan Norma Kelompok). Penganut paham positivistik-empiris atau dikenal kaum behaviorisme berpendapat bahwa hasil terbaik dalam pendidikan ialah apa yang nampak dan terukur. Jika ini diterapkan untuk PAUD maka hasil pendidikan anak yang tak dapat muncul begitu saja. Fenomena hasil pendidikan yang muncul pada anak pun tak mudah untuk diukur secara kuantitatif sebagaimana pertumbuhan fisik anak.
b.     Prosedur Formatif dan Sumatif sebagai Kesatuan
Pendekatan interaksionis yang diimplementasikan pada program PAUD tentu dapat memungkinkan penggunaan kedua prosedur tersebut (formatif dan sumatif) secara terpadu dalam asesmen dan evaluasi. Karena pendekatan interaksionis tidak mengabaikan interaksi antara anak dengan lingkungannya baik alam, benda sekitar, orang dewasa, teman sebaya, gagasan dari luar maupun dalam diri anak. Interaksionisme disebut juga konstruktivisme atau konstruktivisme, dan dalam pendidikan anak usia dini terwujud dalam pengembangan model pembelajaran interaksionis.
Penggunaan prosedur formatif dan sumatif dalam pendidikan anak usia dini, seharusnya memiliki acuan dalam konsep DAP (Developmentally Aproriate Practice). Hal tersebut merupakan ciri khas dalam pendidikan anak usia dini. Tanpa adanya kesatuan dalam penggunaaan pendekatan tersebut, akan mengalami ketimpangan dalam melakukan evaluasi di PAUD.
c.      Arti Keterpaduan Prosedur Formatif dan Sumatif bagi Orang Tua Anak
Orang tua merupakan rekan kerja bagi pendidik dalam melakukan evaluasi pembelajaran di PAUD. Pentingya keterlibatan orang tua dalam proses penilaian sebagai bentuk mitra. Keuntungan menggunakan prosedur formatif sekaligus sumatif ialah bahwa orang tua anak didik dan pihak lainya (misalnya penilik PAUD) diharapkan dapat aktif terlibat dala proses pendidikan.
Keterlibatan orang tua dapat berperan sebagai observer dala proses asesmen dan evaluasi ini sangat bermanfaat. Orang tua akan dapat melihat dengan lebih jelas berjalannya suatu proses pembelajaran yang memberikan suatu hasil/produk. Para orang tua biasanya akan senang melihat kemampuan-kemampuan baru yang diperlihatkan anaknya. Orang tua juga dapat memberikan saran pada sekolah jika menemukan beberapa kelemahan dalam proses pembelajaran yang dialami anak. Sumber referensi: 
S. Eko Putro Widoyoko, 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Anita, Yus,2011. Penilaian Perkembangan Belajar Anak TK. Jakarta: Kencana
Iksan, Waseso, 2014. Evaluasi Pembelajaran TK. Banten: Penerbit Universitas Terbuka.
Share:

CERPEN (Pejuang Subuh)



PEJUANG SUBUH
Waktu subuh adalah waktu manusia terlelap. Melepas lelah. Melupakan kewajiban bertemu Tuhan dalam salat subuh berjamaah. Waktu Subuh adalah pembeda antara orang munafik dan beriman. Malaikat pun menjadi saksi saat subuh datang. Saksi bagi manusia-manusia yang mengingat Tuhannya.
***
            Perkenalkan, aku Fahrul. Cerita ini merupakan pengalaman nyata di tahun 2015 ini. Pengalaman yang selalu menyimpan kenangan bagiku. Ya. Kenangan yang  membuat aku bersyukur. Bersyukur atas semua pengalaman berharga selama merantau di Jakarta.
            Ping. Bunyi penanda pesan masuk di sosial mediaku Whatsapp. Aku melihat handphone-ku. Pesan tersebut berisi kegiatan kajian pejuang subuh yang dilaksanakan di Masjid Sunda Kelapa Menteng. Kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan. Di acara tersebut, ada kegiatan pemutaran film cintasubuh dan kegiatan bakti sosial untuk korban pelanggaran HAM di Myanmar, etnis muslim Rohingya. “Acara ini keren juga. Sepertinya, aku harus ikut,” pikirku. Tapi, ada satu kejanggalan yang aku tidak mengerti, Kejanggalan itu adalah penggunaan istilah “pejuang subuh” di komunitas ini. Mengapa harus ada pejuang subuh, berlebihan saja. Aku menutup pesan tersebut. Aku mengambil spidol dan memberikan tanda X di kalender yang tertempel di dinding kosku. 
***
            Satu minggu lagi, bulan puasa tiba. Aku masih belum menyelesaikan penelitianku. “Sepertinya, aku tidak pulang dulu ke Samarinda”, pikirku. Aku menaiki bus TransJakarta untuk ke lokasi penelitianku di Tanjung Priok. Penuh sesak keadaan di dalamnya. Aku berdesak-desakan dengan penumpang lainnya ketika melangkahkan kaki ke dalam bus. Untungnya, aku mendapatkan tempat duduk di bangku belakang. Bus TransJakarta tetap melaju lancar di jalur bebas hambatan. Kulemparkan pandanganku keluar jendela bus TransJakarta. Pemandangan gedung-gedung yang menjulang langit silih berganti menghiasi pemandangan di luar bus. Samar-samar, pemandangan itu hilang, berganti dengan wajah-wajah orang yang kurindukan, ibu, adik-adikku, dan ayah.
Pikiranku masih melayang jauh, meninggalkan bus yang menyesakkan ini. Meninggalkan sesaat dunia di sekitarku. Pikiran akan keinginan untuk pulang ke Samarinda memenuhi isi kepalaku, tapi langsung berganti dengan bayangan laporan penelitian akhir yang harus kuselesaikan.
Jika aku pulang, aku tidak ada waktu untuk menyelesaikan penelitianku. Aku pasti disibukkan dengan acara ngabuburit bersama teman-temanku. Jika aku tidak pulang, aku pasti merasa sedih karena lebaran tidak di kampung halaman. Pikiranku menjadi liar. Keinginan untuk pulang ke Samarinda atau tetap di Jakarta menyelesaikan tugas akhirku berputar-putar silih berganti memenuhi pikiranku. Aku pejamkan mata sejenak dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku.
            “Pemberhentian berikutnya halte Plumpang Pertamina. Mohon periksa kembali barang dan bawaan Anda. Plumpang Pertamina,” suara petugas bus TransJakarta membuyarkan lamunanku. Aku menuju ke arah pintu keluar, mengantre bersama penumpang yang hendak turun. Aku melanjutkan perjalanan ke tempat penelitian dengan ojek.
 “Bang, antarkan saya ke jalan Alur Laut,”ucapku.
Seperti biasa, jawaban orang-orang Jakarta yang sering aku dengar. “Siap Bang,” jawab si Tukang Ojek. Aku dibonceng oleh tukang ojek. Tiada dialog selama perjalanan. Hiruk pikuk kemacetan membuat aku tidak betah di Jakarta. Ah, sumpek dengan kepadatan kendaraan yang kadang membuatku pusing.
“Bang, ini sudah sampai,” ucap tukang ojek. Aku pun turun. “Makasih, Bang,” balasku.
            Sampai juga akhirnya di tempat penelitianku yang berlokasi di perumahan.Taman Bermain Intan, tempat yang mengijinkan aku melakukan penelitian.
            Assalamualaikum, Bu May, ucapku dengan tersenyum.
            Wa’alaikumsalam, ayo masuk Kak Fahrul. Ini anak-anak sudah siap. Bahan-bahannya sudah siapkah? tanya bu May.
            “Siap, Bu.” Aku mengeluarkan beberapa alat percobaan permainan untuk anak-anak ini. Kegiatan ini aku namakan “Penjelajahan Planet Bumi”. Anak-anak tampak gembira menyambut kedatanganku. “Om Fahrul,” ucap Rasya .
            “Hai Rasya,” balasku dengan melemparkan senyumanku. Tangan Rasya memegang jemariku. Dia genggam erat. Tanganku membalas dengan usapan lembut  di kepalanya. Bercengkrama dengan anak-anak PAUD ini membuatku rindu rumah. Iya benar. Aku rindu bermain dengan anak-anak di sekolahku. Aku merasa menjadi anak-anak lagi ketika bercengkrama dengan mereka.
            Ibu May membantu kegiatan penelitianku. Kami menyiapkan kelas menjadi miniatur penampakan bumi. Hiasan gunung, laut, perkotaan, dan pedesaan yang dirancang sebelumnya telah siap. Kegiatan penelitian dimulai. Wajah anak-anak sangat ekspresif. Tidak ada kesedihan. Tawa keras menggelegar seisi kelas. Aku menyembunyikan rasa rindu kampung halamanku dengan ikut memasuki dunia mereka. Ibu May memimpin permainan. Kamera digital berwarna merah andalanku siap merekam tingkah laku anak-anak.
            “Ayo, kita jelajahi bumi sekarang!” ucap Bu May penuh semangat. “Yeeee. Asik, jalan-jalan,” teriak Kinan. Tidak kalah semangat, Rasya bernyanyi lagu naik-naik ke puncak gunung.
            “Naik-naik ke puncak gunung. Tinggi. Tinggi sekali,” suara merdu Rasya mulai bernyanyi. Tiba-tiba, terdengar suara tangis Renti. “Huuaaaa. Ibuuuuuu!” teriak Renti. Ibu May berhenti. Dengan naluri keibuannya, Ibu May mejajarkan wajahnya dengan Renti.
            “Renti, kenapa menangis?” selidik Ibu May.
            “Rasya pukul aku, Bu. Kaki aku jadi akit,” jelas Renti yang cadel.
            Ibu May memanggil Rasya. “Rasya, apakah benar kamu memukul Renti?” tanya Ibu May dengan lembut.
            “Habis, dia jalannya lambat, Bu. Rasya mau cepat,” jawab Rasya dengan kepolosannya. Ibu May menghela nafas. Beberapa kata dibisikkan kepada Renti. Ibu May juga membisikan beberapa kata kepada Rasya. Ibu May meminta Renti mengucapkan kata tersebut.
Renti berkata dengan lantang, “Rasya, aku gak suka. Sakit aku dipukul”. Ibu May juga meminta Rasya untuk mengucapkan kata yang dibisikkan ke telinganya. “Iya, aku tidak sengaja. Maafkan aku,” balas Rasya. Rasya pun memberikan tangan kanannya kepada Renti. Tanda meminta maaf secara langsung kepada Renti. Renti menyambut dengan hangat. Ibu May tersipu-sipu melihat dua anak kesayangannya.  Aku terkesima dengan cara Ibu May menangani kedua anak ini. Tanpa ikut campur melerai mereka. Ibu May tidak menyalahkan Rasya, juga tidak membela Renti. Ibu May memang guru yang luar biasa.
Penelitian pun selesai. Aku bergegas pulang.
“Ibu May, terima kasih untuk bantuannya selama ini. Karena minggu depan sudah puasa dan penelitiannya sudah selesai, saya tidak ke sini lagi, ucapku.
Ibu May mengangguk. Kedua bola mataku menatap lama suasana kelas ini.  Setiap sudut. Setiap jengkal. Aku merasakan kehilangan tempat nostalgia kampung halamanku. Di tempat penelitian ini, aku merasa berada di rumah. anak-anak PAUD yang menemaniku. Orang tua mereka yang ramah dan bersahabat, guru-guru yang mau membantu selama penelitian, bahkan Pengelola Sekolah yang menganggap aku seperti anaknya sendiri. Beruntung sekali aku melakukan penelitian di tempat ini yang diberikan kemudahan. Aku pun terbawa lamunan.
Tiba-tiba Rasya menubrukku dari depan. “Oom,,,aku mau pangku”, ucap Rasya. Ibu May tidak menegur Rasya. Dia mengabaikan tingkah Rasya. Aku hanya membelai rambut Rasya sambil merekam suasana kelas yang mau bubar.
***
            Aku melanjutkan perjalanan ke kosan. Seperti biasa, aku mengantre bus TransJakarta. Aku melihat tanggal di handphone-ku. Pikiranku mulai berkeliaran ke dimensi lain. Keputusan untuk pulang atau tidak ke Samarinda belum aku tetapkan. Di dalam bus TransJakarta, aku bermain handphone. Bukannya memutuskan untuk pulang atau tidak ke Samarinda, aku malah berpikir tentang broadcast info pejuang subuh. Kenapa juga ada komunitas seperti itu? Apakah mereka tidak ria? Membanggakan ibadah mereka. Aaahh! Sudahlah!.
            Akhirnya, aku sampai juga di kos tercinta. Rumah kedua bagiku. Aku segera menutup kamar. Mengunci rapat-rapat. Laptop kembali aku nyalakan. Sedikit demi sedikit aku melaporkan hasil penelitian. Tidak terasa malam hampir tiba. Aku lupa shalat Zuhur dan Ashar. Azan magrib pun tidak terdengar di telingaku karena hasrat ingin menyelesaikan laporan penelitianku. Aku berkutat di depan laptop hingga pukul 22:00. Hatiku merasa janggal. Biasanya, di Samarinda, aku diingatkan oleh Ibu dan Ayah untuk salat. Di Jakarta ini, aku bebas. Tidak ada siapapun yang melarangku. Aku bebas melakukan apa saja yang aku mau. Untuk bercakap-cakap dengan anak-anak kosanku saja, hanya sesekali aku lakukan. Tidak penting bagiku. Karena saat ini, aku sedang berjuang lulus kuliah tahun ini. Tapi, hatiku tetap merasa tidak nyaman. Aku merasa ada yang kurang.
            Kedua mataku melihat jadwal yang aku beri tanda X. Tanggal 13-14 Juni 2015 ke Masjid Sunda Kelapa. Hari ini. Rasa penasaran masih menggelayutiku. Naluri keingintahuanku menuntun aku untuk memutuskan pergi ke acara pejuang subuh itu. Akhirnya malam ini, aku memutuskan untuk pergi ke acara tersebut. Iya. Malam pencarian informasi tentang komunitas pejuang subuh.
***
            Tiba saatnya, aku mengikuti kegiatan pejuang subuh. Rasa penasaranku akan terpecahkan. Aku duduk di atas kursi bus TransJakarta, menggerakan jemariku di atas layar handphone untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penjuang subuh. Tapi nihil. Tak banyak informasi yang aku dapat dari penyelusuran di internet. Hanya seputar iklan kegiatan kajian pejuang subuh yang dilaksanakan di Masjid Sunda Kelapa Menteng. Jadi, aku mau tidak mau harus mengikuti kegiatan ini sampai besok. Pilihan bermalam pun aku lakukan. Peralatan mandi saja yang aku bawa. Teman-teman kos tidak ada yang mau diajak. Aku malah ditertawakan. Mereka menertawakan istilah pejuang subuh itu. Biarlah aku ditertawakan kali ini.
            Aku berjalan menuju Masjid Sunda Kelapa. Tampak sekeliling perjalananku rumah-rumah yang berlapis pagar yang tinggi sekali. Bagai musafir yang tidak tahu arah, aku hanya mengikuti orang-orang yang mengenakan baju koko lengkap dengan peci di kepala mereka.
            Banyak sekali orang-orang yang berdatangan. Aku terkejut. Aku segera bergegas karena azan magrib telah berkumandang. Aku menitipkan sepatuku ke petugas masjid, tetapi, petugas tersebut berkata, “Mau bermalam juga? Titip di sana saja,” terangnya. Aku mengangguk.
            Barisan pemuda penyambut tamu tampak masih berdiri di depan meja. Mereka mengenakan pakaian coklat dan peci hitam. Aku diminta mengisi buku tamu. Salat magrib pun dilaksanakan. Allahu Akbar.
            Sesudah salat magrib, pembawa acara berdiri mengumumkan beberapa rangkaian acara. Aku mengeluarkan buku kecil catatanku. Dengan seksama aku mendengarkan setiap perkataan pembawa acara.
            Assalamu’alaikum, selamat datang Bapak dan Ibu semua. Acara hari ini spesial sekali ada pemutaran film cintasubuh2, lelang untuk korban muslim etnis Rohingya, ceramah sejarah islam, dan kuliah subuh menyambut Ramadhan,” ucap pembawa acara. Mari kita saksikan film pendek cintasubuh2. Penonton bertepuk tangan. Para pemuda dan Bapak pun turut hadir. Yang membuatku bingung, kenapa harus dipisah oleh pembatas laki-laki dan perempuan di acara ini. Naluri keingintahuanku semakin bertambah. Tiba-tiba, pemuda berkaca mata yang berbadan gemuk berdiri. Dia memperkenalkan komunitas Pejuang Subuh. Aku jadi semangat. Aku akan menemukan jawaban.
            Pemuda itu berkata, “Kami adalah para aktivis yang memiliki impian ingin meramaikan salat subuh berjamaah seramai salat Jumat di masjid. Kami menamakan komunitas ini, Pejuang Subuh. Bagi adik-adik, Ibu-Ibu, dan Bapak-Bapak yang ingin menjadi anggota komunitas bisa bergabung dengan kami melalui panitia. Kami memiliki motto “Salat subuh seramai salat jumat”. Aku terdiam. Kata-kata pemuda itu seperti menampar aku. Subuh adalah waktu di mana aku paling susah untuk bangun. Aku suka bergadang sampai pagi. Berkutat dengan tugas penelitianku sehingga di saat azan Subuh berkumandang, aku masih bergemul dengan selimutku.
            “Kami memiliki para pejuang subuh yang sudah salat subuh berjamaah selama 40 hari berjamaah berturut-turut di masjid. Semboyan untuk para pejuang ini adalah “istiqomah sampai khusnul khotimah,” ucap pemuda tersebut. Telah berdiri sebanyak sepuluh orang, menyampaikan kesan menjadi anggota Pejuang Subuh. Aku mendengarkan dengan baik. Perasaanku terharu. Aku menjadi sedih. Entahlah. Kenapa aku menjadi seperti ini.
            Waktu Isya tiba. Semua bersiap untuk salat. Kegiatan dihentikan sementara. Allahu Akbar. Suara takbir imam shalat terdengar seantero Masjid Sunda Kelapa. Lantunan bacaannya membuat hatiku bergetar. Tidak terasa air mataku jatuh. Ada semacam perasaan takut dan tenang mendengar bacaan sang imam di hatiku. Tiba-tiba bayangan masa laluku terpancar di hadapanku. Banyak sekali waktu-waktu salat yang aku abaikan. Bayangan wajah kedua orang tuaku juga sepintas hadir di hadapanku. Semakin syahdu salatku.
***
            Pembawa acara kembali berdiri. Dia memutarkan film pendek cintasubuh2. Aku menghapus air mataku. Film pun diputar. Film ini bercerita tentang pemuda yang mengalami patah hati karena kekasihnya memutuskan hubungan asmara mereka karena tidak pernah salat Subuh. Akhirnya, dia memilih benar-benar bertobat. Pemuda itu meminta temannya untuk membangunkan dia. Berat rasanya bangun untuk salat Subuh di awal-awal. Pemuda itu sampai disiram air karena tidak bangun. Dan ada momen saat temannya menggunakan cara yang menyakitkan. Temannya mengambil penjepit baju dan tali rafia. Penjepit baju yang kecil itu dijepitkan di bibirnya hingga akhirnya dia terbangun. “Arrggggggghhh!” teriak pemuda itu. Tertawalah semua penonton menyaksikan adegan tersebut.
            Rasa penasaranku tentang pejuang subuh ini telah terjawab. Aku pun menjadi tertarik untuk bergabung. Rangkaian acara lain tetap aku ikuti dengan baik. Lelang barang pejuang subuh, ceramah, hingga kegiatan malam bimbingan takwa atau dikenal mabit, serta kuliah subuh menyambut Ramadhan. Aku ikuti semua. Niatku sudah mantap. Aku ingin memperbaiki diriku. Aku melangkahkan kakiku ke meja panitia. Aku mendaftar untuk menjadi anggota pejuang subuh.
“Mas, saya juga mau jadi anggota pejuang subuh,” ucapku.
“Iya, silakan tulis nomor handphone yang ada Whatsapp-nya, Mas,” ucap panitia. Aku mengangguk. Aku tulis nomor handphone-ku di secarik kertas yang disodorkan kepadaku. Minggu pagi pun aku lalui dengan rasa kantuk. Semalaman aku tidak tidur. Aku beribadah. Ketenangan hati aku dapatkan. Aku tidak menyesali menghadiri kegiatan ini. Aku menuju kosan.
***
Tiga hari kemudian, HP-ku berbunyi. Ping, tanda pesan masuk. Ternyata ada nomor baru. Kang Oman, salah satu pejuang subuh. Dia memperkenalkan diri. Aku pun membalas. Kami saling tukar informasi. Kang Oman memberikan beberapa peraturan tentang program pejuang subuh dan keberhasilan program tersebut. Kang Oman berkata, “Salat Subuh dan Isya adalah shalat yang terasa berat bagi orang munafik. Insya Allah saya akan membantu Mas Fahrul,” tutupnya.
Aku memutuskan tidak pulang ke Samarinda dan tetap di Jakarta. Hari pertama aku belajar bangun subuh di mulai. Aku bersiap tidur lebih awal. Aku menuruti pesan Kang Oman. Sebelum tidur, ber-wudhu terlebih dahulu. Niatkanlah bangun untuk salat Subuh”. Alarm handphone pun diatur lebih keras. Aku pun tertidur.
Pukul 05:30, aku baru bangun. Laporan panggilan di handphoneku ada sebanyak 6 kali dari Kang Oman. Hari pertama aku gagal. Susah juga aku bangun subuh, ucapku.  
Peraturan yang tertera di dalam grup pejuang subuh, “Bagi anggota yang salat Subuhnya berjamaah di masjid melapor dengan simbol onta. Bagi yang telat datang berjamaah, tetapi masih bisa berjamaah melapor dengan simbol domba. Bagi yang telat salat Subuh atau tidak shalat Subuh, melapor dengan simbol ayam”. Aku pun melapor diri dengan simbol ayam.
Kang Oman berkata, “Mas Fahrul, kenapa kesiangan?, tanyanya.
Nggak tau Kang, Saya mah sudah mengatur alarm kok, jawabku.
“tetap semangat Mas Fahrul”, balas Kang Oman.
Hari demi hari, aku jalani program pejuang subuh ini yang  memang sulit. Aku selalu susah bangun lebih awal. Hingga akhirnya. Di hari ke-7, aku berhasil bangun lebih awal. Itu pun terbangun karena mimpi buruk dikejar-kejar orang gila yang membawa pisau. Keringat dingin bercucuran membasahi dahiku.  Aku pun bergegas menuju musala yang ada di dekat kos. Sarung kotak-kotak berwarna merah-, dan peci putih sudah aku kenakan. Langkah kakiku mantap menuju musala. Salat sunnah sebelum salat Subuh aku laksanakan.
Satu per satu orang mulai berdatangan. Kebanyakan para orang tua renta. Tidak ada anak muda atau remaja. Aku terkejut. Aku membayangkan negeri Turki yang setiap hari ramai salat Subuh seperti salat Jumat. Pantas saja Turki lebih maju dari negeri ini. Bahkan lebih makmur penduduknya. Azan Subuh pun berkumandang.
As’shalatuukho’irumminannaum…….
As’shalatuukho’irumminannaum……..
“Akhirnya, aku berhasil salat Subuh berjamaah, ucapku lirih. Subhanallah-, Jadi ini nikmat berjama’ah salat Subuh. Udara subuh memang sangat segar. Pikiranku juga terasa lapang. Aku pun bergerak merasa tidak ada beban. Aku merasa bahagia. Kebahagiaan kecil yang menyentuh hatiku.
 Aku pun melapor di grup pejuang subuh. Simbol yang selalu ayam, kini berubah menjadi onta.
Kang Oman membalas dengan pesan singkat, “Alhamdulilah mas Fahrul. Pertahankan. Niatkan karena Allah ya mas. Insya Allah bisa 40 hari berturut-turut berjama’ah salat Subuhnya”,tulisnya.
Aku membalas dengan singkat, “-Insya Allah Kang.










Share:

silabus dan rpp matakuliah

KUMPULAN SILABUS DAN RPP MATA KULIAH YANG DIAMPU

KAPITA SELEKTA PAUD ASESMEN AUD PENGEMBANGAN APE MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PAUD KESEHATAN DAN GIZI MODEL PENGEMBANGAN SOSEM AUD TEORI ...

Total Tayangan Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

About

Flag Counter

Blogger templates